Rabu, 11 November 2020

PRAGMATISME

  

NAMA : ARINDA DWITAMI YASMINE

NIM : 19019073

SEJARAH PEMIKIRAN MODERN



PRAGMATISME

 

     Secara etimologis, Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti fakta, benda, materi, sesuatu yang dibuat, kegiatan/tindakan, pekerjaan atau menyangkut akibat. Pragmatisme dapat diartikan sebagai aliran pemikiran yang menekankan berfungsinya gagasan dalam tindakan. Pemikiran ini menyatakan bahwa benar tidaknya suatu teori bergantung pada berfaedah tidaknya teori itu bagi manusia dalam penghidupannya.

     Istilah ‘Pragmatisme’ diambil oleh Charles Sanders Peirce dari Filsafat Kant. Dalam Filsafat Kant terdapat dua kata yang mirip namun berbeda arti, yaitu praktisch (bahasa Yunani: praktikos) dan pragmatisch (dari pragmatikos). Istilah praktisch merujuk pada pengertian tindakan dengan tujuan pada dirinya sendiri sehingga pengertian tindakan ini hanya ada dalam ranah akal budi, bukan dalam pengalaman langsung. Sedangkan, pragmatisch menekankan suatu gerak dari kehendak manusia untuk melaksanakan tujuan definitif sebagai tahap penting untuk mengklarifikasi pemikiran.Pragmatisme memiliki karakteristik khas, yaitu dapat diaplikasikan dalam praktik atau bekerja paling efektif. Pragmatisme menentukan standar validitas makna, kebenaran pernyataan, dan nilai tindakan utamanya berdasar pada efek praktikal.

 

    Sejarah Pragmatisme pada mulanya adalah akar gagasan yang ditulis oleh beberapa pemikir Amerika, yaitu Charles Sanders Peirce (1839-1914), William James (1842-1910), dan John Dewey (1859-1952). Peirce mendefinisikan pragmatisme sebagai metode dalam teori pengetahuan dan makna. Istilah pragmatisme kemudian disebarluaskan oleh James dan karena itu nama William James lah yang lebih dikenal sebagai tokoh Pragmatisme. James memperluas pembicaraan pragmatisme tidak terbatas pada epistemologi, tetapi juga meliputi tema humanitas dan agama/keyakinan. John Dewey, dengan menggunakan pendekatan pragmatisme Peirce dan James, memperkenalkan teori instrumentalisme yang menyatakan bahwa kognisi harus berfungsi untuk memecahkan persoalan sosial. pada mulanya tumbuh sebagai perwujudan dari keinginan untuk menguji filsafat secara ilmiah dan mengakhiri perdebatan metafisik. Pragmatisme juga lahir di tengah berkembangnya Teori Evolusi Darwin dalam sains, yang menandai pergeseran perhatian para pemikir dari esensi ke cara/proses berada-nya sesuatu.

 

TOKOH TOKOH PRAGMATISME 

 

1. Charles Sandre Peirce (1839-1914)

   Pierce mengatakan bahwa problema-problema termasuk persoalan-persoalan metafisik dapat dipecahkan jika kita memberi perhatian kepada akibat-akibat praktis dari mengikuti bermacam-macam pikiran. Pierce merupakan seorang ahli logika yang mementingkan problema teknis dari logika dan epistemologi serta metoda sains dalam laboratorium. Perhatiannya dalam logika mencakup penyelidikan sistem deduktif, metodologi dalam sains empiris dan filsafat yang ada di belakang metoda dan teknik yang bermacam-macam.

     Logikanya mencakup teori alamat (signs dan symbols) dan karyanya dalam hal tersebut merupakan karya perintis. Ia memandang logika sebagai alat komunikasi atau usaha kooperatif atau umum.Salah satu sumbangan Pierce yang paling penting bagi filsafat adalah teorinya tentang arti. Pada hakekatnya ia membentuk satu dari teori-teori modern tentang arti dengan mengusulkan suatu teknik untuk menjelaskan pikiran.

     Empirisme Pierce lebih bersifat intelektual daripada voluntaris (segi kemauan); ini berarti bahwa ia menekankan kepada intelek dan pemahaman lebih daripada kemauan dan aktivitas. Rasa tidak enak karena sangsi mendorong kita mencari keyakinan. Hasil dari pencarian tersebut, yang maksudnya adalah untuk menghilangkan kesangsian, adalah pengetahuan. Dengan begitu maka ia tidak menekankan kepada rasa indrawi atau kemauan seperti yang dilakukan oleh bentuk-bentuk terakhir dari pragmatisme umum. Di satu pihak, Pierce bersifat kritis terhadap intuisionisme dan prinsip-prinsip a priori.

 

2. William James (1842- )

   Pragmatisme James merupakan faham tentang pemikiran, pendapat, dan teori, yang dapat dipraktikkan yang dianggap benar dan berguna. Dengan ini James menganggap nonsens terhadap “ide” Plato, “pengertian umum” Socrates, definisi Aristoteles, skeptisisme Descartes.

   Metode yang digunakan James adalah meliorisme, dengan cara menggabungkan keberlawanan rasionalisme dan empirisisme, untuk memecahkan masalah-masalah filsafatnya.Pahamnya tentang kebenaran memunculkan karakteristik pragmatisme yang humanistis. Di sini, moral memperoleh wajah yang pluralistik.

  Seperti telah diketahui, James terpengaruh oleh hal-hal yang baru, kemerdekaan, kemauan individualitas dan ketidakseragaman yang bersifat inheren dalam alam ini. Akibatnya ia menekankan pendapat bahwa Tuhan itu terbatas.Walaupun begitu Tuhan itu bermoral dan bersikap bersahabat dan manusia dapat bekerja sama dengan Tuhan dalam perjuangan menciptakan suatu dunia yang lebih baik.

     Kata kunci pragmatisme James adalah: “tidak ada hukum moral umum, tidak ada kebenaran umum, semua kebenaran belum final”. Kata kunci ini berada dalam breakdown filsafat Amerika yang menekankan proses sebagai manusia (human being qua process)

 

3. John Dewey (1859)

     John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata (sesuatu yang realitas), filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya.

     Menurut Dewey, kita ini hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaannya. Sikap Dewey dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meneliti tiga aspek dari yang kita namakan instrumentalisme. Pertama, kata “temporalisme” yang berarti bahwa ada gerak dan kemajuan nyata dalam waktu. Kedua, kata futurisme, mendorong kita untuk melihat hari esok dan tidak pada hari kemarin. Ketiga, milionarisme, berarti bahwa dunia dapat diubah lebih baik dengan tenaga kita. Experience (pengalaman) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman itu secara aktif-kritis.

   Dewey mengatakan bahwa manusia telah memakai dua metoda untuk menghindari bahaya dan mencapai keamanan. Metoda pertama adalah dengan melunakkan atau minta damai kepada kekuatankekuatan di sekitarnya dengan upacara-upacara keagamaan, korban, berdoa, dan lain-lain. Metoda kedua adalah dengan menciptakan alat untuk mengontrol kekuatan-kekuatan alam bagi maslahat manusia. Ini adalah jalannya sains, industri, dan seni, dan cara inilah yang disetujui Dewey. Tujuan filsafat adalah untuk mengatur kehidupan dan aktivitas manusia secara lebih baik, untuk di dunia, dan sekarang. Perhatian dialihkan dari problema metafisik tradisional kepada metoda, sikap, dan teknik untuk kemajuan ilmiah dan kema-syarakatan. Metoda yang diperlukan adalah penyelidikan eksperimental yang diarahkan oleh penyelidikan empiris dalam bidang nilai.

 

   Paham pragmatisme ini sangat berkaitan erat dengan kehidupan abad XX karena lebih banyak membahas tentang tujuan berpikir. Tujuan kita berfikir adalah memperoleh hasil akhir yang dapat membawa hidup kita lebih maju dan lebih berguna. Sesuatu yang menghambat hidup kita adalah tidak benar. Selain itu juga lebih banyak menjabarkan bagaimana manusia harus belajar dari pengalaman agar menjadikannya lebih baik dari sebelumnya. Karena pengetahuan tidak hanya tentang ilmu,namun juga tentang pengalaman hidup.



WRITTEN IN BAHASA 

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2020

FENOMENOLOGI

 



FENOMENOLOGI

 

     Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, yang asal katanya adalah “phenomenon’’ dan “logos”. Phenomenon berarti “yang muncul dalam kesadaran manusia”. Sedangkan logos, berarti ilmu. Phenomenologi berarti studi tentang phenomenon, atau yang muncul dengan sendirinya. Fenomenologi berarti uraian tentang phenomenon, atau sesuatu yang sedang menampilkan diri, atau sesuatu yang sedang menggejala.Phenomenologi berpegang atau berpendirian bahwa segala pikiran dan gambaran dalam pikiran kesadaran manusia menunjuk pada sesuatu, hal atau keadaan seperti ini, yaitu pikiran dan gambaran yang tertuju atau mengenai sesuatu tadi disebut intensional. Dalam bahasa Indonesia ada juga kata yang digunakan untuk mengartikan fenomena yaitu: gejala. Fenomenologi hakekatnya ingin mencapai pengertian yang benar, yaitu pengertian yang menangkap realitas seperti dikehendaki oleh realitas itu sendiri.Fenomenologi mencari atau mengamati fenomena sebagaimana yang tampak, dalam hal ini ada 3 prinsip yang tercakup didalamnya: (1) Sesuatu itu berwujud, (2) sesuatu itu tampak, (3) karena sesuatu itu tampak dengan yang diterima oleh si pengamat tanpa melakukan modifikasi.

    Fenomenologi sebagai salah satu cabang filsafat pertama kali dikembangkan di universitas-universitas Jerman sebelum Perang Dunia I, khususnya oleh Edmund Husserl, yang kemudian dilanjutkan oleh Martin Heidegger dan yang lainnya, seperti Jean Paul Sartre. Selanjutnya Sartre memasukkan ide-ide dasar fenomenologi dalam pandangan eksistensialisme. Adapun yang menjadi fokus eksistensialisme adalah eksplorasi kehidupan dunia mahluk sadar atau jalan kehidupan subjek-subjek sadar. Menurut Hegel, fenomena yang kita alami dan tampak pada kita merupakan hasil kegiatan yang bermacam-macam dan runtutan konsep kesadaran manusia serta bersifat relatif terhadap budaya dan sejarah.

     Sebaliknya Husserl berpendapat bahwa kesadaran terarah pada realitas, dimana kesadaran bersifat intensional, yakni realitas yang menampakkan diri.Sebagai seorang ahli fenomenologi, Husserl mencoba menunjukkan bahwa melalui metode fenomenologi mengenai pengarungan pengalaman biasa menuju pengalaman murni, kita bisa mengetahui kepastian absolut dengan susunan penting aksi-aksi sadar kita, seperti berpikir dan mengingat, dan pada sisi lain, susunan penting obyek-obyek merupakan tujuan aksi-aksi tersebut.

     Lebih lanjut dijelaskan bahwa fenomena dipandang dari dua sudut. Pertama, fenomena selalu menunjuk ke luar atau berhubungan dengan realitas di luar pikiran. Kedua, fenomena dari sudut kesadaran Kita, karena selalu berada dalam kesadaran Kita. Maka dalam memandang fenomena harus terlebih dahulu melihat penyaringan (ratio), sehingga mendapatkan kesadaran yang murni. Karena sesungguhmya Fenomenologi menghendaki ilmu pengetahuan secara sadar mengarahkan untuk memperhatikan contoh tertentu tanpa prasangka teoritis lewat pengalamanpengalaman yang berbeda dan bukan lewat koleksi data yang besar untuk suatu teori umum di luar substansi sesungguhnya, dan tanpa terkontaminasi kecenderungan psikologisme dan naturalisme.

 

TOKOH TOKOH FENOMENOLOGI 

 

1. Edmund Husserl (1859-1938).

     Dalam pemikiran Husserl, konsep fenomenologi itu berpusat pada persoalan tentang kebenaran. Baginya fenomenologi bukan hanya sebagai filsafat tetapi juga sebagai metode, karena dalam fenomenologi kita memperoleh langkah-langkah dalam menuju suatu fenomena yang murni. Husserl yakin bahwa ada kebenaran bagi semua dan manusia dapat mencapai kebenaran itu.

    Menurut Husserl “prinsip segala prinsip” ialah bahwa hanya intuisi langsung (dengan tidak menggunakan pengantara apapun juga) dapat dipakai sebagai kriteria terakhir dibidang Filsafat. Hanya apa yang secara langsung diberikan kepada kita dalam pengalaman dapat dianggap benar dan dapat dianggap benar “sejauh diberikan”. Dari situ Husserl menyimpulkan bahwa kesadaran harus menjadi dasar filsafat.

    Ada beberapa aspek yang penting dalam intensionalitas Husserl, yakni: 

1) Lewat intensionalitas terjadi objektivikasi. Artinya bahwa unsur-unsur dalam arus kesadaran menunjuk kepada suatu objek, terhimpun pada suatu objek tertentu.

2)  Lewat intensionalitas terjadilah identifikasi. Hal ini merupakan akibat objektivikasi tadi dalam arti bahwa berbagai data yang tampil pada peristiwa-peristiwa kemudian masih pula dapat dihimpun pada objek sebagai hasil objektivikasi tadi.

3) Intensionalitas juga saling menghubungkan segi-segi suatu objek dengan segi-segi yang mendampinginya.

4)  Intensionalitas mengadakan pula konstitusi. “Konstitusi” merupakan proses tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran.

     Pada akhirnya Husserl selalu mementingkan dimensi historis dalam kesadaran dan dalam realitas. Suatu fenomen tidak pernah merupakan suatu yang statis, arti suatu fenomen tergantung pada sejarahnya.

 

2. Martin Heidegger (1889-1976)

     Proyek utama filsafat Heidegger adalah mempertanyakan makna “ada”. Konsep itu sendiri memang sudah menjadi bagian dari refleksi filsafat selama berabad-abad. Heideggerlah yang kemudian menggunakan kembali konsep tersebut di dalam filsafatnya. Selain itu Heidegger juga banyak mendasarkan pikirannya pada filsafat Yunani Kuno. Ia banyak mendapatkan inspirasi dari mereka di dalam prosesnya mempertanyakan makna ada, walaupun nantinya Heidegger akan mengembangkan rumusannya sendiri.

     Heidegger lebih jauh berpendapat, bahwa seluruh problem di dalam filsafat modern muncul, karena terpisahnya subyek, yakni manusia, dari obyek, yakni dunia yang dipersepsinya. Inilah yang disebut Heidegger sebagai ‘membelah dan menghancurkan fenomena’ (splitting asunder of the phenomena). Heidegger juga berpendapat bahwa manusia adalah bagian dari alam keseluruhan, karena ia selalu ada-di-dalam-dunia (being in the world). Jadi manusia dan alam berada di dalam kesatuan ontologis yang utuh serta tak terpisahkan. Maka dari itu sikap yang tepat dari manusia terhadap alam adalah sikap yang memperlakukan alam sebagai bagian dari diri manusia itu sendiri.

     Harapan akan masa depan itu tidak didasarkan pada kekosongan, melainkan pada pengertian kita tentang dunia yang ada sekarang ini. Dengan konsep itu ia tidak hanya mau mengatakan, bahwa manusia itu adalah mahluk yang hidup dalam waktu, atau memiliki intuisi tentang waktu, melainkan bahwa manusia hidup dalam tiga dimensi waktu sekaligus, yakni berharap untuk masa depan, mengingat apa yang sudah berlalu, dan terhisap serta terikat di dalam kekinian (presentness).Dalam arti ini kekinian murni (here and now) adalah suatu ilusi, karena manusia tidak pernah berada di dalam kekinian murni, melainkan selalu sudah menghidupi dirinya dalam ketiga momen, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan.

 

     Menurut saya paham fenomonologi ini sangat erat kaitan nya dengan kehidupan abad ke XX. Karena fenomonologi lebih banyak membahas tentang adanya pemikiran dan lahirnya ilmu filsafat yang akan membuat manusia lebih banyak berpikir dan juga lebih banyak membahas mengenai adanya kehidupan masa lalu,masa kini dan masa depan.



WRITTEN IN BAHASA 

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2020

 

EKSISTENSIALISME




 EKSISTENSIALISME

 

 

     Eksistensialisme berasal dari kata “eks” yang berarti keluar dan “sistensi” dari kata “eksistere” yang berarti tampil, menempatkan diri, berdiri, yaitu cara manusia berada di dunia ini. Semua ini mempunyai inti yang sama, yaitu keyakinan bahwa filsafat harus berpangkal pada adanya (eksistensi) manusia yang konkret, dan tidak pada hakikat (esensi) manusia pada umumnya.Eksistensialisme berasal dari kata “eks” yang berarti keluar dan “sistensi” dari kata “eksistere” yang berarti tampil, menempatkan diri, berdiri, yaitu cara manusia berada di dunia ini. Semua ini mempunyai inti yang sama, yaitu keyakinan bahwa filsafat harus berpangkal pada adanya (eksistensi) manusia yang konkret, dan tidak pada hakikat (esensi) manusia pada umumnya. Secara harfiah, kata eksistensi berarti muncul, timbul, memiliki wujud eksternal, sister (existere, latin) menyebabkan berdiri.

      Eksistensialisme yang berkembang pada abad ke 20 di Perancis dan Jerman, bukan sebagai akibat langsung dari suatu keadaan tertentu, tetapi lebih disebabkan oleh respon yang dialami secara mendalam atas runtuhnya berbagai tatanan di dunia Barat yang sebelumnya dianggap stabil. Meletusnya perang dunia pertama telah menghancurkan keyakinan atas keberlanjutan kemajuan peradaban menuju kebenaran dan kebebasan. Kemudian dengan melemahnya banyak struktur eksternal kekuasaan, seperti struktur ekonomi, politik serta kekuasaan pada saat itu yang sudah kehilangan legetimasinya, dan kuasa atas individu jadi terasa sudah tidak lagi ditolerir karena ditentang dan dianggap tidak memiliki peran yang berarti, dan pada saat itu manusia perorangan hanya bisa tunduk pada kekuasaan internal atas dirinya sendiri. Kondisi seperti itu telah mengantarkan para eksistensialis kembali pada diri manusia sebagai pusat filsafat yang sejati dan sebagai satu-satunya kekuasaan yang berlegitimasi. Eksistensialisme merupakan suatu aliran filsafat yang lahir untuk menentang zamannya. Ia lahir sebagai reaksi terhadap cara berfikir yang telah ada seperti materialisme dan idealisme, dan barangkali juga kekecewaan terhadap agama (Kristen).

 

TOKOH TOKOH EKSISTENSIALISME 

1. Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855)

      Sören Kierkegaard sangat menekankan masalah Ilahiah/ Ketuhanan pada puncak pemikirannya. Berbicara mengenai filsafat eksistensialisme tentu mempunyai akar genealoginya. Apabila ditinjau dari alam pikiran Barat dewasa ini maka dapat dikatakan bahwa filsafat eksistensialisme pada dasarnya merupakan tanggapan terhadap aliran-aliran filsafat sebelumnya

     Menurut Kierkegaard, yang sangat penting bagi manusia adalah keadaan dirinya sendiri atau eksistensi sendiri. Dalam keberadaannya tersebut eksistensi manusia bukan statis, melainkan menjadi, yang secara implisit di dalamnya terjadi perubahan dan perpindahan dari kemungkinan pada tingkat kenyataan. Dalam perkembangannya, dinamika eksistensi manusia sendiri terjadi dalam kebebasan dan keluar dari kebebasan. Dengan demikian, eksistensi manusia berada dalam kebebasan karena manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam kehidupannya.Eksistensi adalah titik Archimedes yang baru di mana tempat manusia melekatkan dunia dan dirinya sendiri. Untuk menentukan hidupnya manusia harus berani mengambil keputusan. Dengan keberaniannya untuk mengambil keputusan ini maka keputusan- keputusan akan menjadi bermakna.

      Lebih lanjut, Sören Kierkegaard mengatakan bahwa manusia yang dapat mengambil keputusan merupakan suatu bentuk eksistensi manusia yang sebenarnya. Sebaliknya, apabila manusia tidak dapat memberikan putusan yang tegas maka hal tersebut merupakan bentuk suatu eksistensi yang tidak sebenarnya atau dapat dikatakan sebagai suatu eksistensi yang semu.

 

2. Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1889)

     Secara umum kita dapat melihat 3 bagian penting dalam pandangan filsafatnya yang saling berkaitan satu dengan yang lain: nihilisme, kehendak untuk berkuasa (the will to power), dan ubermensch.

     Nihilisme berangkat dari sebuah renungan tentang krisis kebudayaan khususnya kebudayaan Eropa pada zamannya. Bagi Nietzsche, orang Eropa pada zamannya tidak sanggup lagi merenungkan dirinya sendiri, yang takut merenung. Bagaikan sebuah insight tentang apa yang hendak terjadi pada zaman sesudahnya, demikianlah teorinya. Nihilisme semacam keruntuhan nilai dan makna yang meliputi seluruh bidang kehidupan mansia yang dapat dibagi menjadi dua, yaitu bidang keagamaan dan bidang ilmu pengetahuan.

     Sebagai lanjutan atau konsekuensi dari nihilisme yakni, the will to power atau kehendak untuk berkuasa. Bagi Nietzsche kemanusiaan didorong oleh suatu kehendak untuk berkuasa. Semua impuls tindakan kita berasal dari kehendak ini. Seringkali kehendak untuk berkuasa ini diubah dari ekspresinya yang semula, atau bahkan diaihkan ke bentuk lain, tapi tidak dapat dihindari semua itu selalu bermata air di tempat yang sama. Bagi Nietzsche, ajaran kristen seperti cinta kasih, kerendahan hati, keibahan adalah lawan dari the will to power.

     Ubermensch di sini tidak dimaksudkan sama dengan superman yang berkonotasi stagnan melainkan memakai istilah overman, yang berkelanjutan dan di dalam proses menjadi. Di dalam Bahasa Indonesia, Ubermensch diartikan dengan kata “manusia atas”. Manusia atas adalah manusia yang unggul yang lebih dari manusia lainnnya. Bagi Nietzsche, kebudayaan yang baik adalah kebudayaan yang membuat manusia-manusianya maju dan menjadi unggul.

3. Jean-Paul Sartre (1905-1980)

     Premis filsafat Sartre banyak diuraikan dengan pelbagai istilah „revolusioner‟ di pertengahan abad 20. Misalnya pernyataan yang mengatakan bahwa eksistensi itu mendahului esensi (hal ini dikenal dalam eksistensialisme dengan semboyan existence precedes essense), tidak ada hakikat manusia, karena tidak ada Tuhan yang memiliki konsepsi tentang hal itu. Esensi sebagai bangunan intelektual akan hilang bersama dengan akal yang memahaminya.

     Titik tolak filsafat menurut Sartre tidak bisa lain dari pada cogito ; kesadaran yang saya miliki tentang diri saya sendiri. Dalam hal ini, Sartre mengakui kebenaran Descartes. Tetapi filsuf abad 17 ini menurut Sartre langsung menafsirkan cogito sebagai suatu cogito yang tertutup, sehingga cogito yang terpisah dari dunia dan terkurung dalam dirinya. Untuk itu kemudian Sartre memasukkan pandangan Husserl yang menyatakan bahwa intensionalisme merupakan ciri khas kesadaran. Menurut kodratnya kesadaran terarah kepada yang lain dari dirinya. Menurut kodratnya kesadaran adalah transendensi (bertentangan dengan imanensi yang menandai cogito Descartes).

     Tema sentral yang terdapat dalam seluruh karya filsafat Sartre adalah manusia atau lebih spesifik menekankan human existence. Salah satu ungkapan Sartre yang menunjukkan hal ini adalah “hanya manusia yang sungguh-sungguh bereksistensi”.Sartre memandang manusia sebagai subjek, manusia adalah pencipta dirinya sendiri yang terus menerus. Manusia terus menerus mencipta dirinya sendiri dengan kemauan, kemerdekaan dan perbuatannya. Dengan kebebasannya manusia dapat mencipta, ia ditandai oleh keterbukaan pada masa depan dan merencanakan segala sesuatu bagi dirinya. Ia tidak dapat menyalahkan orang lain atau menggantungkan diri kepada realitas yang tidak ada (Tuhan), tetapi manusialah yang senantiasa menciptakan dirinya sendiri.

 

     Menurut saya hubungan eksistensialisme dengan abad XX adalah manusia sebagai makhluk yang lebih berpikir dan dan ada didunia ini untuk menciptakan suatu kedamaian dan pemikiran-pemikiran baru yang berkembang dan akan menata dunia untuk kehidupan selanjutnya.


WRITTEN IN BAHASA

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2020

Kamis, 05 November 2020

KAPITALISME VS SOSIALISME



 

NAMA : ARINDA DWITAMI YASMINE

NIM : 19019073

SEJARAH PEMIKIRAN MODERN 


KAPITALISME VS SOSIALISME 


KAPITALISME

 

     Kapitalisme adalah suatu paham atau ideologi dimana kepentingan pribadi berada diatas kepentingan umum atau masyarakat luas. Dalam ideologi kapitalisme, hak pribadi ditempatkan diatas segalanya bahkan dalam sistem ekonomi, pemerintah tidak bisa melakukan intervensi terhadap apa yang dilakukan seseorang dalam usaha memperoleh kekayaan sebesar-besarnya. Istilah kapitalisme juga mengacu pada suatu sistem organisasi sosio ekonomi tertentu (biasanya dikontraskan dengan feodalisme dan sosialisme, yang pada hakekatnya lebih tepat didefinisikan secara implisit ketimbang eksplisit). Sama halnya dengan konsep-konsep politik yang sarat dengan nilai-nilai lain. Definisi kapitalisme lainnya, baik itu secara implisit ataupun eksplisit cenderung berubah-ubah dan selalu diwarnai oleh bias ideologi pemakainya. Bahkan ketika dijadikan kategori historis atau dilakukan untuk keperluan analisis obyektif, definisi kapitalisme yang digunakan juga berubah-ubah sesuai dengan sekuen temporal dan karakter perkembangan historis yang tengah dibahas. Oleh karena itu, ahli sejarah Sombart (1915), Weber (1930) dan Tawney (1926), berusaha mengaitkan perubahan-perubahan organisasi ekonomi dengan berbagai pergeseran sikap keagamaan dan etis dalam mendapati esensi kapitalisme pada semangat pencarian keuntungan, yang khususnya berlaku pada abad ke 16, 17, dan awal abad ke 18.

     Pada abad ke-18 dataran Eropa dikuasai oleh tiga golongan besar yaitu raja, kaum Feodal, dan pihak gereja.Secara garis besarnya disini pihak gereja sangat berkuasa. Dengan keadaan begitu, membuat rakyat merasa tersiksa hingga menimbulkan reaksi perlawanan dari raja-raja dan kaum feodal yang tirani. Mereka menuntut Liberty, Fraternity dan Egality. Keadaan demikian melahirkan beberapa ideologi besar seperti Liberalisme di bidang politik dan free value di bidang sains. Revolusi industri di Inggris pada saat itu juga membawa semangat baru berkaitan dengan semangat kapitalisme. Bahwa ideologi kapitalisme muncul ke dalam ranah ekonomi. Saat Inggris terjadi revolusi industri terjadi perubahan kegiatan ekonomi yang semulanya berpola masyarakat pertanian hingga berubah menjadi masyarakat industri. Hal tersebut menjadikan perubahan- perubahan dari alat industri yang di gunakan.Secara garis besar, ada tiga tahap sejarah kapitalisme yaitu: kapitalisme awal (1500 – 1750), kapitalisme klasik (1750 -1914), dan kapitalisme lanjut (1914 – sekarang).

 

 

HUBUNGAN PAHAM KAPITALISME DENGAN KEHIDUPAN EKONOMI SOSIAL MASYARAKAT

     Produksi terdiri dari produksi komoditas, yaitu produksi yang bertujuan untuk dijual di pasar.Produksi dijalankan dalam kondisi dimana alat produksi dimiliki secara pribadi.Produksi dijalankan untuk sebuah pasar yang tidak terbatas dan dibawah tekanan persaingan. Setiap individu kapitalis (pemilik pribadi, tiap perusahaan atau kelompok kapitalis) berusaha untuk mendapatkan keuntungan terbesar tanpa mempertimbangkan hasil keseluruhan dari keputusan serupa yang diambil oleh perusahaan lain yang beroperasi dalam bidang yang sama.Tujuan produksi kapitalis adalah memaksimalkan keuntungan.Karenanya dibawah cambukan kompetisi, kapitalisme diwajibkan untuk mencari maksimalisasi keuntungan agar mengembangkan investasi produktif hingga maksimum.Perekonomian diatur oleh mekanisme pasar. Manusia dipandang sebagai mahkluk homo economicus, yang selalu mengejar kepentingan (keuntungan) sendiri. Pelaku aktivitas ekonomi sesungguhnya bukanlah institusi negara, tapi para pengusaha bermodal besar. Walaupun begitu, peran negara tidak hilang sama sekali, negara menjadi aktor pelengkap dalam pencaturan ekonomi negara.

 

      Aspek lain dari paham kapitalisme adalah demokratisme. Kebebasan warga negara dijunjung tinggi. Warga negara bebas melakukan apa saja asal tidak melanggar tertib hukum,negara hanya bertindak sebagai pengawas jalannya tertib hukum. Pada kapitalis monopolis mengesampingkan nilai agama sehingga menciptakan sekulerisme atau paham yang memisahkan agama dengan negara.

 

 

 

SOSIALISME

 

     Secara etimologi, istilah sosialisme atau dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah socialism berasal dari bahasa Perancis, yaitu “sosial” yang berarti “kemasyarakatan”. Secara historis, istilah sosialisme pertama kali muncul di Perancis sekitar tahun 1830. Umumnya sebutan itu dikenakan bagi aliran atau pandangan yang hendak mewujudkan masyarakat yang berdasarkan pada hak milik bersama terhadap alat-alat produksi, dengan maksud agar produksi tidak lagi diselenggarakan oleh orang-orang atau lembaga perorangan atau swasta yang hanya memperoleh laba, semata-mata untuk melayani kebutuhan masyarakat. Secara terminologi, istilah sosialisme dipahami secara bermacam-macam oleh para tokoh. Franz Magnis-Suseno misalnya, menulis bahwa sosialisme merupakan, (1) ajaran dan gerakan yang menganutnya bahwa keadaan sosial tercapai melalui penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi, (2) Keadaan masyarakat di mana hak milik pribadi atas alat-alat produksi telah dihapus.Salah satu ciri khas dari pemikiran sosialisme adalah pengendalian harta dan produksi serta kekayaan oleh kelompok.

     Awal kemunculan sosialisme abad ke 19 dinamakan sosialisme utopis yaitu sosialisme yang didasarkan pada pandangan kemanusiaan (humanitarianisme) dan meyakini kesempurnaan watak manusia. Penganut faham ini bercita-cita menciptakan masyarakat sosialis dengan jalan damai tanpa kekerasan atau revolusi.Perkembangan kapitalisme menciptakan polarisasi masyarakat yakni golongan majikan dan buruh, atau golongan borjuis dan proletar. Keadaan ini menggugah hati setiap orang seperti Robert Owen di Inggris (1771-1858), Saint Simon (1760-1825) dan Fourier (1772-1837) di Perancis untuk memperbaikinya. Mereka terdorong oleh rasa kemanusiaan, akan tetapi tanpa disertai tindakan dan konsepsi yang nyata mengenai tujuan dan strategi dalam memperbaiki sehingga teori-teori mereka dikenal dengan anganangan belaka. Oleh karena itu mereka disebut sosialisme utopi (utopi: dunia khayal). Sosialisme sebagai kekuatan besar yang baru, lahir dalam revolusi industri yang muncul dalam gerakan protes. Sebagai filsafat politik, ia timbul dengan melepaskan diri dari sistem ekonomi kapitalisme yang mendukung kredo liberalisme. Kapitalisme abad 19 adalah ekploitasi secara kasar dan melalui persaingan tanpa batas. Ketidakpuasan dan pergolakan sosial yang ditimbulkan tercermin dalam mazhab sosialisme utopis dan marxism.

 

HUBUNGAN SOSIALISME DENGAN KEHIDUPAN EKONOMI SOSIAL MASYARAKAT

     Pemerintah-pemerintah sosialis dapat berkuasa lama di negara-negara yang terutama bersifat agraris seperti Denmark dan Selandia Baru, oleh karena petani-petani di negeri-negeri tersebut bersimpati terhadap program sosialis yang mempertahankan keutuhan ekonomi dan individualisme mereka dengan jalan kredit murah, harga-harga paritet (kesamaan harga) yang terjamin dan politikpolitik lainnya yang ditujukan untuk melindungi petani kecil dari ancaman penguasaan oleh bank-bank, perusahaan-perusahaan asuransi dan saudagar-saudagar besar.

      Dalam banyak contoh produktivitas pertanian kecil setelah diadakan perubahan agraria adalah lebih kecil daripada sebelumnya di waktu pertanian masih dilakukan dalam kesatuan-kesatuan besar. Akan tetapi suatu pemerintahan yang menghendaki perubahan mungkin bersedia memikul rendahnya produktivitas, demi kemanfaatan sosial yang lebih besar, berupa kelas petani yang merdeka. Tehnologi pertanian bagaimanapun masih cukup sederhana sehingga kesatuan-kesatuan besar dapat dipecah,dan kesatuan-kesatuan kecil dapat diselenggarakan dengan cukup efisien.

     Namun demikian majunya ekonomi kapitalis, bentuk hak milik dan kerja secara perseorangan (keluarga) berangsur berubah, terutama akibat kemajuan teknologi, perusahaan secara besar-besaran menampung kapitalis, pemilik atau majikan yang asli. Semakin luasnya perusahaan industri, pekerjaan semakin disosialisasi, semakin kolektif, sedang hak milik tetap bersifat perseorangan. Dalam usaha memulihkan keselarasan klasik diantara pekerjaan dan hak milik, mereka yang menghendaki perubahan menghadapi dua pilihan. Mereka dapat memecah perusahaan-perusahaan besar menjadi kesatuan-kesatuan yang kecil, sehingga pekerjaan dan hak milik pada waktu yang bersamaan berada lagi di tangan satu orang atau keluarga.

 

     Aspek lain dari paham sosialisme adalah sosialisme sebagai suatu kekuatan politik yang penting dapat dikatakan timbul sebagai akibat dari kapitalisme modern. Sistem tersebut sama tuanya dengan peradaban barat, baik pandangan Yunani maupun pandangan Yahudi Kristen secara kategoris menolak konsepsi kekayaan sebagai dasar bagi penghiduan yang baik. Sosialisme demokratis hanya berkembang dalam masyarakat-masyarakat yang telah mengalami industrialisasi yang agak luas, dimana industrialisasi berlangsung dalam masyarakatmasyarakat yang tidak mempunyai lembaga-lembaga liberal yang telah berurat berakar, penyesuaian politik terhadap ketegangan-ketegangan yang timbul mungkin sekali akan mengambil bentuk semacam facisme (seperti di Jerman, Italia, Jepang dan Argentina) atau komunisme (seperti di Rusia dan Tiongkok).


WRITTEN IN BAHASA

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2020

MARXISME

 PAHAM MARXISME

 

 

         Secara historis,filsafat Marxisme adalah filsafat perjuangan kelas buruh untuk menumbangkan kapitalisme dan membawa sosialisme ke bumi manusia.Marxisme adalah kata lain untuk sebuah filsafat dialektika materialisme. Dialektika dan materialisme adalah dua filsafat yang dikembangkan oleh filsuf-filsuf Barat dan juga Timur, yang kemudian disatukan,disintesakan,oleh Marx menjadi dialektika materialisme. Untuk memahami pokok-pokok Marxisme, kita bisa memecahnya menjadi tiga bagian, seperti yang dipaparkan oleh Lenin, yakni: Materialisme Dialektis, Materialisme Historis, dan Ekonomi Marxis, Tiga bagian ini yang biasanya menjadi bagian utama dari Marxisme.Jadi, pada dasarnya, pokok dari Marxisme adalah materialisme dialektis.   

           Sejak filsafat ini dirumuskan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels 150 tahun yang lalu dan terus berkembang, filsafat ini telah mendominasi perjuangan buruh secara langsung maupun tidak langsung. Kendati usaha-usaha para akademisi borjuis untuk menghapus ataupun menelikung Marxisme selalu ada, tetapi filsafat ini terus hadir di dalam sendi-sendi perjuangan kelas buruh.Dalih bahwa buruh terlalu bodoh untuk bisa memahami dasar-dasar filsafat Marxisme adalah tidak lain usaha kaum borjuasi untuk memisahkan buruh dari filsafat perjuangannya.  Tidak ada yang bisa memisahkan buruh dari filsafatnya karena dalam kesehari-hariannya buruh menghidupkan filsafat ini di dalam aktivitasnya di pabrik. Alhasil, buruhlah yang pada akhirnya mampu merenggut filsafat ini untuk digunakan dalam perjuangan melawan kapitalisme. Sejarah telah menunjukkan bahwa kaum intelektual yang bersenjatakan Marxisme tidak pernah mencapai hasil sejauh kaum buruh. Marxisme adalah kata lain untuk sebuah filsafat dialek.

      Pandangan Marxisme tentang negara merupakan antitesa dari pandangan liberalisme tentang negara yang menganggap bahwa negara adalah kontrak sosial untuk perdamaian.Berbeda dengan filsafat Idealisme Hegel yang menganggap bahwa kekuatan yang menggerakkan sejarah adalah roh dunia atau akal dunia, Marx melihat bahwa perubahan material itulah yang mengubah sejarah. Perubahan material menciptakan hubungan-hubungan rohaniah yang baru. Marx secara khusus menekankan bahwa kekuatan ekonomi dalam masyarakatlah yang menciptakan perubahan dan menggerakkan sejarah yang bergerak maju. Konsep sejarah Marx (Materialisme Dialektika Historis), sebenarnya berasal dari kritikannya terhadap dialektika Hegel yang bersifat idealis. Hegel memahami sejarah sebagai gerak ke arah rasionalitas dan kebebasan. Puncak dialektika roh dalam filsafat Hegel adalah roh absolut. “Yang Absolut adalah Yang Ada”, sementara “Yang Ada” adalah roh. Roh absolut (ide absolut) merupakan sintesis dari roh subyektif (ide subyektif) dan roh obyektif (ide obyektif). Roh absolut menurut Hegel adalah pure thought(pikiran murni) yang berpikir tentang dirinya sendiri. Sementara materialisme Marx berasal dari kritikannya terhadap materialisme Feuerbach, inti materialisme Feuerbach adalah kritikannya terhadap agama. Dasar kritik agama Feuerbach adalah bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi sebaliknya Tuhan merupakan produk dari imajinasi manusia. Menurut Feuerbach, agama hanyalah sebuah proyeksi manusia. Menurut pandangan dialektika materialis, perubahan-perubahan alam terutama disebabkan oleh perkembangan berbagai kontradiksi internal dalam alam itu sendiri.

      Filsafat Marxisme mendasarkan diri pada materi, yang dalam hal ini adalah kondisi sosial dan ekonomi atau untuk lebih spesifiknya disebut corak produksi yang terdiri dari hubungan produktif dan kekuatan produktif. Setiap proses perkembangan sejarah selalu tidak bisa lepas dari “kontradiksi” antara kedua komponen corak produksi ini. Inilah yang membedakan antara konsep materialisme dialektika historis Marxisme dengan dialektika Hegel atau Materialisme Feuerbach.“Semua yang muncul patut dihancurkan”. Tetapi tak ada kelas penguasa yang secara sukarela dan damai mau begitu saja turun dari kekuasaannya, untuk itulah perjuangan kelas tertindas yang terorganisasi adalah jawabannya. Inilah inti dari teori Materialisme Dialektika Historis.

      Tokoh marxisme adalah Karl Marx. Karl Heinrich Marx nama asli dari Karl Marx lahir di Trier, Prussia (sekarang Jerman), pada tanggal 5 Mei 1818. Ibunya berasal dari keluarga Rabbi Yahudi, sedangkan ayahnya berpendidikan sekuler dan pengacara yang sukses. Pemikiran Marx menjadi rujukan banyak ilmuan dan sangat relevan sebagai pisau analisis.Das Kapital menjelaskan tentang pemahaman filosofi keadilan sosial dengan mengambil kasus ketidakadilan dalam ekonomi. Pemikiran Marx dan analisis ekonomi tersebut didasarkan pada pemikiran epistimologi yang sangat terkenal yaitu dialectical and historical materialism. Pemikiran filosofi epistimologi itulah yang menjadikan Marx lebih dikenal sebagai anti Tuhan. Imajinasi sosialisme Marx untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas, tanpa penindasan, dan tanpa alienasi masih selalu diperdebatkan. Menurut Marx, sosialisme adalah produk materialisme dialektis dan materialisme historis.

     Marx juga diilhami filsafat Jerman (Dialektika Hegel dan Materialisme Feurbach). Seperti Feurbach, Marx tidak puas dengan pemikiran abstrak (abstract thought). Mereka menginginkan yang lebih empiris. Jika Feurbach hanya mengganti esensi agama dan esensi manusia, Marx menambahkan bahwa esensi manusia adalah totalitas hubungan sosial. Seperti Hegel, Marx berpandangan bahwa sejarah berjalan sesuai dengan prinsip dialektika: tesis-antitesis-sintetis. Akan tetapi, jika Hegel berpendapat bahwa semua tesis itu bersifat ide, Marx menggantinya dengan yang bersifat materi karena, ide terlahir akibat kondisi sosial.

       Marx dengan kemampuan ilmu ekonominya menilai bahwa konsep kapitalisme adalah sistem sosio ekonomi yang dibangun untuk mencari keuntungan yang didapat dari proses produksi, bukan dagang, riba, memeras ataupun mencuri secara langsung. Tetapi dengan cara mengorganisir mekanisme produksi secara terukur sehingga mengurangi biaya produksi seminim mungkin atau melalui mode of production. Tema besar dalam pemikiran Marx sebenarnya berkisar pada konsep kritik atas ekonomi politik. Kritik terhadap ekonomi politik ini membawa Marx pada kritik filsafat mengenai pembagian kerja.

      Karl Marx ketika membicarakan masalah agama terkadang dalam ungkapan yang sangat baik, namun sebaliknya terkadang sangat kasar dan kejam. Menurut Marx, agama adalah sebuah ilusi. Rasa takut adalah sebuah ilusi dengan konsekuensi yang sangat menyakitkan.



WRITTEN IN BAHASA

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2020