Kamis, 29 Oktober 2020

Postivisme

NAMA : ARINDA DWITAMI YASMINE
NIM : 19019073
SEJARAH PEMIKIRAN MODERN


                            POSITIVISME

       Istilah “positivisme” diperkenalkan oleh Comte. Istilah itu berasal dari kata “positif”. Dalam prakata Cours de Philosophie Positive, dia mulai memakai istilah “filsafat positif” dan terus menggunakannya dengan arti yang konsisten di sepanjang bukunya. Dengan “filsafat” dia mengartikan sebagai “sistem umum tentang konsep-konsep manusia”, sedangkan “ positif diartikannya sebagai “teori yang bertujuan untuk ‘penyusunan fakta-fakta yang teramati’ ”. dengan kata lain, “positif” sama dengan “faktual”, atau apa yang berdasarkan fakta-fakta. Dalam hal ini, positivisme menegaskan bahwa hendaknya tidak melampaui fakta-fakta
     Situasi intelektual di Perancis abad ke-19 sangat berbeda dari situasi Pencerahan abad ke-18. Pada zaman Pencerahan terdapat kecenderungan yang kuat untuk melawan agama, di abad ke-19 para filsuf Perancis mulai menghargai kembali peranan dimensi rohani manusia. Dalam hal ini mereka banyak menyerap pengaruh cita-cita spiritual idealisme Jerman yang berkembang pada abad yang sama. Sebuah aliran terpenting pada abad ini adalah positivisme, dengan tokoh Auguste Comte. Aliran ini menjadi cikal bakal ilmu pengetahuan tentang masyarakat atau sosiologi. Sekilas tampak perbedaan mencolok antara idealisme dan positivisme. Idealisme mendukung metafisika, sedangkan positivisme menolak metafisika. Kalau dipelajari lebih jauh, akan jelas bahwa kedua-duanya sama-sama spekulatif. Di balik kedok “filsafat positif”, aliran yang anti metafisika itu tidak jauh dari metafisika. Dengan demikian perbedaan keduanya bersifat ideologis. Sementara idealisme Jerman dengan sifat konservatif berusaha memodifikasi metafisika tradisional dengan wajah rasional, positivisme – dengan semangat sekularistis progresif hasil zaman pencerahan – berusaha merekonstruksi sebuah sistem pengetahuan ilmiah yang dapat menjelaskan realitas sebagai keseluruhan.

TOKOH-TOKOH POSITIVISME : 
1.Auguste Comte (1798-1857)
   Comte adalah orang pertama yang menggunakan istilah sosiologi. Pemikiran Comte berpengaruh besar terhadap para teoritisi sosiologi di kemudian hari, terutama Herbert Spencer dan Emile Duekheim. Comte meyakini bahwa studi sosiologi akan menjadi ilmiah seperti halnya keyakinan teoritisi klasik dan kebanyakan sosiolog kontemporer. Sosiologi ini tidak lain adalah fisika sosial yang pada tahun 1839 ia sebut sosiologi. Penggunaan istilah fisika sosial merupakan usaha Comte agar sosiologi meniru model hard sciences.
     Comte tidak menginginkan perubahan revolusioner karena ia merasa bahwa evolusi masyarakat secara ilmiah akan membuat segala sesuatu menjadi lebih baik. Reformasi hanya diperlukan untuk membantu proses. Kebudayaan menurut Comte juga mengalami perkembangan mengikuti hukum fundamental. Ia membagi kebudayaan dalam tiga stadia (tahap) yaitu: stadium teologis yang diidentikkan dengan masa kanak-kanak dimana pemikiran masih bersifat fiktif, stadium metaphisis disamakan dengan masa remaja dengan pikiran-pikiran yang abstrak, stadium positif digambarkan sebagai masa dewasa dengan pemikiran berlandaskan ilmu pengetahuan.

2.John Stuart Mill (1806-1873)
     J.S. Mill merumuskan pemikiran-pemikirannya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan psikologis. Ia mencoba memberikan dasar psikologis dan logis kepada positivisme. Mill mengatakan bahwa psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan dasar yang menjadi azas bagi filsafat.
Ilmu sejarah termasuk ilmu pengetahuan alam, artinya Mill bermaksud meningkatkan ilmu sejarah hinggga menjadi ilmu eksakta. Di dalam ilmu etika (ilmu kesusilaan) Mill memfokuskan pada hubungan timbal balik di antara individu dan masyarakat, atas dasar utilitarianisme. Ia berpangkal pada pertimbangan-pertimbangan psikologis. Maksud dan tujuan manusia adalah memperoleh kesenangan.
      Mill menolak teori kontrak sosial dengan mengatakan bahwa tidak ada tujuan baik yang bisa dijawab dengan menemukan kontrak dengan maksud untuk menyimpulkan kewajiban-kewajiban politik darinya. Realitanya masyarakat memerlukan kebahagiaan dan perkembangan manusia melahirkan kewajiban pada manusia untuk ikut serta mempertahankannya.Realitanya masyarakat memerlukan kebahagiaan dan perkembangan manusia melahirkan kewajiban pada manusia untuk ikut serta mempertahankannya. Kondisi sosial adalah alamiah, perlu dan sudah jamak bagi manusia, sehingga kecuali dalam keadaan yang luar biasa, manusia tidak pernah melihat dirinya kecuali sebagai anggota masyarakat. Sebagaimana penerima keuntungan dari masyarakat, manusia mempunyai kewajiban untuk mempertahankan entitas sosial.

3.Herbert Spencer (1820-1903)
     Menurut Spencer keterangan tentang dunia baik yang bersifat religius maupun yang bersifat metafisis, kedua-duanya menimbulkan hal-hal yang secara batiniah saling bertentangan. Keduanya ingin memberikan penjelasan tentang asal mula segala sesuatu. Padahal manusia tidak dapat mengetahui hal itu. Oleh karenanya kita harus mengesampingkan saja hal yang tidak dapat dikenal itu (the great unknowable), dan hanya menyibukkan diri dengan hal-hal yang mungkin bagi kita. Kita harus berusaha mengetahui penampakan-penampakan atau gejala-gejala yang telah kita kenal atau yang disajikan kepada kita.
     Spencer berpendapat bahwa masyarakat itu merupakan organisme yang berkembang atas dasar hukum-hukum tertentu, yaitu masyarakat yang pada hakekatnya tersusun secara sederhana untuk mempertahankan diri terhadap bahaya-bahaya yang mengancamnya, yang kemudian pada saatnya masyarakat akan terus berkembang menuju ke arah suasana yang damai dan bebas. Spencer adalah pengamat paham liberalisme, yang menekankan pada kebebasan individu.

    Dengan mempelajari paham positivisme ini hendaknya kita akan berpikir secara faktual dam idealis. Sehingga tidak akan terjadi yang namanya suatu kecerobohan atau kegegabahan dalam melakukan sesuatu. Dan ketika kita sebagai mahasiswa dimasa depan tentu akan mempedomani paham positivisme mengenai ilmu pengetahuan rohani dan alam sehingga kita akan menjadi pemimpin yang demokratis dan lebih mendahulukan kepentingan/urusan dengan tuhan yang maha kuasa.

WRITTEN IN BAHASA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020

Kamis, 22 Oktober 2020

Pemikiran Abad Ke-XX

NAMA : ARINDA DWITAMI YASMINE
NIM : 19019073
SEJARAH PEMIKIRAN MODERN



                  PEMIKIRAN ABAD KE XX

     Pemikiran abad ke-20 meliputi perkembangan sejumlah aliran filsafat baru yaitu positivisme, marxisme, eksistensialisme, fenomenologi, pragmantisme, dan neo kantinisme dan kemudian bergerak menuju poststukturalisme. Dalam hal era filsafat, filsafat tersebut biasanya dilabeli sebagai filsafat kontemporer menggantikan filsafat modern, yang berjalan dari zaman Descartes sampai abad kedua puluh.
     Filsafat abad ke-20 membawa kita pada corak filsafat yang lebih berwarna dibandingkan era sebelumnya. Secara periodis, filsafat abad ke-20 dimulai pasca filsafat modern. Pada masa inilah, pergeseran gaya filsafat dapat ditangkap secara jelas. Salah satu faktor utama adalah gejolak realitas di kala itu yang terekspos besar-besaran dalam Perang Dunia. Industrialisasi manusia di Barat terjadi secara revolusioner dan turut memegang andil dalam filsafat abad ke-20.
     Tidak dapat dipungkiri bahwa kebangkitan filsafat abad ke-20 menjadi ironi bagi filsafat itu sendiri. Kontradiksi sederhana dapat dipahami, di satu sisi bahwa era abad ke-20 membuka garis batas filsafat menjadi bebas dan menarik. Filsafat menjadi topik yang membumi, tidak mengawang di menara gading. Filsafat terkemas sedemikian rupa, sesuai konteks kekinian dan terasa nikmat untuk dikaji.
      Perkembangan filsafat pada zaman kontemporer ( abad ke-XX dan seterusnya) ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan penemuan berbagai teknologi canggih. Dalam pemikiran abad ke-20, heterogenitas dan kuantitas aliran-aliran lebih menonjol daripada kualitas mereka. Salah satu sebab heterogenitas filsafat abad kedua puluh adalah “profesionalisme” yang semakin besar. Kebanyakan filsuf abad kedua puluh merupakan spesialis-spesialis dalam matematika, fisika, psikologi, sosiologi dan ekonomi.
      Beberapa aliran yang menonjol, yang muncul pada abad kedua puluh, diantaranya adalah : 
      1. Positivisme (Auguste Comte)
        Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturanaturan, demikian juga alam. Postivisme pada hakikatnya juga adalah ajaran sosial atau pandangan dunia, yang menganggap mungkin bahwa masyarakat yang lebih baik itu dapat dibentuk. Ilmu pengetahuan, dalam pandangan Comte, patut menjadi pemimpin dalam usaha ini. para pengikut positivisme logis menganut kayakinan ini. hal ini tercermin dalam pemakaian kata 'positivisme' dalam nama aliran filsafat ilmu pengetahuan.
      2. Marxisme (Karl Marx)
         Marxisme merupakan dasar teori komunisme modern. Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum, sementara hasil pekerjaan mereka hanya dinikmati oleh kaum kapitalis. Salah satu alasan mengapa Marxisme merupakan sistem pemikiran yang amat kaya adalah bahwa Marxisme memadukan tiga tradisi intelektual yang masi telah sangat berkembang saat itu, yaitu filsafat Jerman, teori politik Perancis, dan ilmu ekonomi Inggris.
        3.Eksistensialisme
         Eksistensi diartikan manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya dan sibuk dengan dunia di luarnya.Tokoh eksistensialisme adalah 

A. Martin Heidegger
   Menurutnya, persoalan berada hanya dapat dijawab melalui ontologi, artinya jika persoalan ini dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungan itu. Metode untuk ini adalah metode fenomenologis. Jadi yang penting adalah menemukan arti berada itu,satu-satunya yang berada dalam arti yang sesungguhnya adalah beradanya manusia. Menurut Heidegger, manusia tidak menciptakan dirinya sendiri, ia dilemparkan ke dalam keberadaan. Tetapi, walau manusia keberadaannya tidak mengadakan sendiri, bahkan merupakan keberadaan yang terlempar, manusia tetap harus bertanggungjawab atas keberadaannya itu.

B. Jean Paul Sartre
    Pandangan tentang pentingnya arti manusia sebagai pribadi inilah yang menjadi intisari filsafat yang dikembangkan oleh Sartre dalam nama eksistensinya. Bagi Sartre, segala berada secara ini, “segala berada” dalam diri (I’efre en soi) adalah memuakkan (nauseant).Manusia mempunyai hubungan dengan keberadaannya, ia bertanggungjawab atas fakta bahwa ia ada. Eksistensi walaupun kebebasan, namun tergantung juga kepada hal yang lain. Sebab sekali kita bebas di dalam pemilihan, kita terikat pada pemilihan itu, serta harus berbuat serta memikul akibat perbuatan itu. Maka tidak ada kebebasan yang mutlak. Kita bebas, tetapi justru itulah kecemasan kita.

C. Gabriel Marcel (1889-1973) 
     Dalam filsafatnya ia menyatakan, bahwa manusia tidak hidup sendirian, tetapi bersama-sama dengan orang lain. Tetapi manusia memiliki kebebasan yang bersifat otonom. Ia selalu dalam situasi yang ditentukan oleh kejasmaniannya. Dari luar ia dapat menguasai jasmaninya, tetapi dari dalam ia dikuasai oleh jasmaninya. Manusia bukanlah makhluk yang statis, sebab ia senantiasa menjadi (berproses).

      4. Fenomenologi 
     Edmund Husserl (1859-1938) adalah pelopor filsafat fenomenologi yang sangat berpengaruh. Husserl mengemukakan tiga macam reduksi atau penyaringan, yaitu : 
Reduksi Fenomenologis. Di dalam reduksi fenomenologis, kita harus melakukan penyaringan terhadap semua pengalaman-pengalaman kita, dengan maksud agar mendapatkan fenomena yang semurni-murninya.
     Reduksi Eidetis. Yaitu penyaringan atau penempatan dalam tanda kurung segala hal yang bukan eidos (intisari/hakekat gejala/fenomena). Kita melihat hakekat sesuatu. Inilah pengertian yang sejati. c) Reduksi Transendental Dalam reduksi transendental yang harus ditempatkan di antara tanda kurung ialah eksistensi dan segala sesuatu yang tidak ada hubungan timbal balik dengan kesadaran murni, agar dari obyek itu akhirnya orang sampai kepada apa yang ada pada subyek sendiri, dengan kata lain, metode fenomenologi itu diterapkan pada subyeknya sendiri dan kepada perbuatannya, kepada kesadaran yang murni.
     5. Pragmatisme 
     Pragmatisme diambil dari kata pragma (bahasa Yunani), yang berarti tindakan, perbuatan. Kata pragmatisme sering diucapkan orang-orang yang menyebutkan kata itu dalam pengertian praktis.
Aliran pragmatisme timbul di Amerika dengan tokohnya yang terutama yaitu : William James dan John Dewey
     A. William James
    Nilai konsep atau pertimbangan kita, tergantung pada akibatnya, kepada kerjanya. Artinya tergantung pada keberhasilan perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar bila bermanfaat bagi pelakunya, memperkaya hidup dan kemungkinankemungkinannya. Menurut James, dunia tidak dapat diterangkan dengan berpangkal pada satu asas saja. Dunia adalah dunia yang terdiri dari banyak hal yang saling bertentangan.
      B. John Dewey
    Menurutnya, tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan dalam kenyataan hidup. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran Metafisis yang tidak ada faedahnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara kritis. Menurut John Deawey tidak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, segera berpikir untuk mengatasi kesulitan itu.

      Menurut saya pentingnya mempelajari pemikiran abad XX adalah karena kita hidup dengan menggunakan pikiran dan akal yang secara keseluruhan telah tertuang dalam sejarah pemikiran abad XX,dan kita dapat mampu berpikir mendalam,rasional,serta komunikatif. Juga jika kita mengaplikasikannya kedalam kehidupan kita sehari-hari kita dapat menjadi manusia yang bertanggung jawab dan berpikir sebelum melakukan suatu hal,memikirkan baik dan buruknya terlebih dahulu.

WRITTEN IN BAHASA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG 
2020

Jumat, 09 Oktober 2020

Essay Pendek Kamis 8 Oktober 2020 (Reinassance, Rasionalisme, Empirisme)

NAMA : ARINDA DWITAMI YASMINE
NIM : 19019073
SEJARAH PEMIKIRAN MODERN

Bab 3
REINASSANCE

        Kata Renaissance berarti kelahiran kembali. Renaissance merupakan usaha menghidupkan kembali kebudayaan klasik (Yunani-Romawi) yang dipandang sebagai sesuatu yang bernilai pada dirinya.
        Kelahiran kembali budaya Romawi dan Yunani kuno telah terjadi di Italia sejak abad ke-14. Lebih jauh Burckhardt mengatakan bahwa renaissance bukan sekedar kelahiran kembali kebudayaan Romawi dan Yunani kuno tetapi merupakan kebangkitan kesadaran manusia sebagai individu yang rasional, sebagai pribadi yang otonom, yang mempunyai kehendak bebas dan tanggungjawab. Manusia bebas, rasional, mandiri dan individual itulah prototype manusia modern, manusia yang sanggup dan mempunyai keberanian untuk memandang dirinya sebagai pusat alam semesta (antroprosentris) dan bukan Tuhan sebagai pusatnya (teosentris). Maksudnya manusia harus berani bertanggungjawab atas segala perbuatannya dan mengandalkan pada kemampuan-kemampuan yang dimilikinya dalam menjalani kehidupan duniawi ini. Ini memang mengandung benih-benih sekularisme barat sehingga agama semakin tersisihkan. Bahkan gema renaissance mengumandangkan seruan bahwa “Man can do all thing if they will”. Itu berarti bahwa manusia itu dapat berbuat apa saja, sebab dirinya memang begitu otonom.
Italia memiliki tradisi klasik yang lebih kuat dibandingkan beberapa negara di Eropa barat.        Pada Abad Pertengahan, orang-orang Italia telah berusaha mengelola cara-cara melestarikan warisan kebudayaan Romawi Kuno bagi anak keturunan mereka. Mereka memeliharanya dengan penuh rasa bangga dan menganggap bahwa infiltrasi Lombard, Byzantium dan Saracenic, telah menurunkan mereka ke tingkat kebudayaan yang rendah dari masa ke masa. Dari peninggalan-peninggalan yang terdapat di beberapa kota di Italia, menunjukkan bahwa sistem pendidikan Romawi Kuno masih terdapat di sekolah-sekolah pemerintah.
      Zaman renaissance juga ditandai dengan meningkatnya semangat menghidupkan ilmu pengetahuan dari masa Yunani Romawi, sehingga banyak orang menyibukkan diri untuk menggali ilmu pengetahuan, seperti ilmu pasti, ilmu falak dan ilmu pengetahuan alam lainnya. Inilah yang mendorong munculnya ilmuwan-ilmuwan terkenal seperti Newton, Harvey, Descartes, Pascal, Leewenhook, dan lain-lain. Semangat baru ini juga mempengaruhi pemikiran politik zaman itu. Ilustrasi yang paling baik mengenai hal itu terdapat dalam karya-karya Niccolo Machiavelli yang secara kreatif memanfaatkan kajiannya tentang Livy ketika ia menerapkannya pada pembuatan pedoman-pedoman praktis untuk pelaksanaan politik dan perang modern.


Bab 4
RASIONALISME

      Rasionalisme adalah pendirian dalam cara berpikir yang menjunjung tinggi rasio atau akal dengan cara yang sedemikian rupa sehingga akal menjadi hakim yang mutlak atas segala sesuatu. Dengan demikian, menurut aliran ini, segala sesuatu mendapatkan tolak ukurnya melalui rasio. Segala sesuatu harus dimengerti dengan sejelas-jelasnya
      Kaum Rasionalisme mulai dengan sebuah pernyataan aksioma dasar yang dipakai membangun sistem pemikirannya diturunkan dari ide yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas,dan pasti dalam pikiran manusia. Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui ide tersebut, namun manusia tidak menciptakannya, tetapi mempelajari lewat pengalaman. Ide tersebut kiranya sudah ada “ di sana” sebagai bagian dari kenyataan dasar dan pikiran manusia. Kaum rasionalis berdalil bahwa karena pikiran dapat memahami prinsip, maka prinsip itu harus ada, artinya prinsip harus benar dan nyata. Jika prinsip itu tidak ada, orang tidak mungkin akan dapat menggambarkannya. Prinsip dianggap sebagai sesuatu yang a priori, dan karenanya prinsip tidak dikembangkan dari pengalaman, bahkan sebaliknya pengalaman hanya dapat dimengerti bila ditinjau dari prinsip tersebut.
Tokoh-tokohnya antara lain ; Rene Descartes (1596 – 1650),Baruch de Spinoza (1632 – 1677),Gottfried Wilhelm Von Leibniz (1646 – 1716),Nicolo Machiavelli (1469 – 1527),Christian Wolff (1679-1754)
Dasar pemikiran tokoh tersebut sebagai berikut; dasar pemikiran Descartes : Descartes pada masa hidupnya sangat dipengaruhi oleh suasana yang tidak pasti, yaitu adanya kesimpangsiuran yang tampak pada jalan pikiran manusia pada waktu itu. Bahwa manusia lahir di dunia ini sebagai orang-orang yang belum dewasa. Pendapat setiap orang ditentukan oleh pendapat atau omongan orang lain, artinya setiap orang dipengaruhi oleh orang sebelumnya atau orang sezamannya dalam memperoleh pengetahuan, sehingga pada hakekatnya pendapat kita hanya merupakan prasangka-prasangka, maka segala sesuatu yang kita hadapi harus kita ragukan, kecuali ragu-ragu itu sendiri. Apabila kita bersikap ragu-ragu berarti kita sadar, kita berpikir. Sadar bahwa kita berpikir, maka berarti pula bahwa kita ini ada.
Dasar pemikiran Spinoza: Kita harus membentuk idea-idea yang sesuai dengan realitas yang jelas, agar pandangan kita menjadi benar. Sebaliknya, ketika pengertian dangkal dan emosi-emosi pasif mencegah kita dari menjadi diri kita sendiri. Kebenaran berarti kita mempunyai idea-idea yang benar, termasuk tentang diri kita sendiri. Akhirnya, pengertian yang luhur yang dengannya akal budi kita mencapai fungsinya yang tertinggi adalah mengerti Allah karena tak ada pengertian yang lebih luas daripada pengertian akan Allah. Semakin kita mengerti Allah, semakin kita mencintaiNya.
    Dasar pemikiran Leibniz : Dari karya-karyanya itu, Leibiz dapat dikatakan sebagai orang yang teguh pada Tuhan. Buktinya adalah ia telah meminjam bukti-bukti bersifat kesarjanaan (skolastik) yang ada tentang kehadiran Tuhan dan sesungguhnya ia telah mengulang kembali falsafah Augustinus dalam istilah ilmu pasti dan fisika kaum teologi abad pertengahan yang menarik bukti-bukti berdasarkan kitab keagamaan, maka Leibniz berpaling kepada penemuan-penemuan ilmu pasti dan ilmiah yang mengesankan dari zamannya sendiri. Leibniz menggambarkan bahwa manusia adalah wujud dari pengaturan atau pemograman. Tuhanlah yang membuat program dan setelah program itu dibuat, dunia akan berjalan terus dengan sendirinya. Leibniz adalah pemikir yang optimis, namun pemikir lain tetap menilainya belum berhasil menemukan sintesa dari dua fakta yaitu harmonia di satu pihak dan kejahatan di lain pihak.
    Dasar pemikiran Machiavelli : nasehat bagi kaum penguasa yang ingin sukses dalam memerintah. Prinsip pokok yang harus dipegang adalah seorang penguasa harus membuang jauh-jauh segala macam pertimbangan moral dan hanya mengandalkan pada kekuatan, kebohongan, kelicikan, dan kebencian. Jika keamanan negara memang mengharuskan, maka segala cara halal untuk mencapai tujuan dan menegakkan kekuasaan. Seorang penguasa tidak boleh mengikuti hati nurani yang melemahkan kemauan untuk tetap berkuasa. Orang lain dapat saja mengemukakan kebenaran dan bersedia menderita untuk itu, tetapi penguasa kebenaran sejati terletak pada bagaimana mempertahankan dan memperkuat kekuasaan dengan segala cara.
     Dasar pemikiran wollf : pengembangan dari filsafat Leibniz dengan menerapkannya terhadap segala bidang ilmu pengetahuan. Ia mengupayakan supaya filsafat menjadi ilmu pengetahuan yang pasti. Untuk itu, filsafat harus disertai dengan pengertian-pengertian yang jelas dan bukti-bukti yang kuat. Suatu sistem filsafat haruslah berisi gagasan-gagasan yang jelas dan penguraian yang baik. Wolff berjasa dalam membuat filsafat menarik perhatian masyarakat umum.
     Mengapa mempelajari paham rasionalisme sangat penting bagi kehidupan?seberapa pentingnya? Tentu ini sangat penting karena semakin kita paham akan pemikiran dasar dari paham rasionalisme ini maka akan semakin besar peluang bagi pribadi individu untuk mengaplikasikannya kedalam kehidupan sehari-hari.


Bab 5 
EMPIRISME
     Empirisme adalah suatu aliran yang berpendapat bahwa empiris atau pengalaman merupakan sumber pengetahuan. Pengalaman disini meliputi pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia.           
      Konsekuensi dari anggapan ini adalah munculnya keyakinan bahwa akal atau rasio bukan menjadi sumber pengetahuan, tetapi akal mendapat tugas untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman.
Pemicu erkembangan empirisisme yang meluas itu adalah karena ada kekecewaan, khususnya di kalangan pemikir, terhadap aliran rasionalisme yang memang telah berkembang terlebih dahulu.
     Tokoh-tokohnya antara lain; Francis Bacon (1561-1627),Thomas Hobbes (1588-1679),John Locke (1632-1704),David Hume (1711-1776)
     Dan dasar pemikiran tokoh tersebut sebagai berikut; dasar pemikiran Bacon : Pemikiran-pemikiran Francis Bacon dapat dilihat dari karya-karyanya. Ia berusaha menjawab mengapa ilmu pengetahuan lambat berkembang, sehingga ia ingin menunjukkan bagaimana sebaiknya jalan yang harus ditempuh demi tercapainya perkembangan ilmu pengetahuan itu. Usahanya untuk mengembangkan pengetahuan yang baru ia lakukan dengan melancarkan kritik-kritik terhadap semua kekuatan yang menentang ide-idenya yang baru.
     Dasar pemikiran Hobbes : Hobbes menganggap pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengetahuan. Pengenalan intelektual tidak lain daripada semacam kalkulus atau perhitungan, yaitu penggabungan data-data inderawi yang sama dengan cara yang berlain-lainan. Tentang dunia dan manusia ia menganut suatu pendapat materialistis. Karena itu ajaran Hobbes merupakan sistem materialistis yang pertama dalam sejarah filsafat modern
     Dasar pemikiran Locke : Menurut Locke antara kekuasaan perundang-undangan dan kekuasaan melaksanakan undangundang sebaiknya dipegang oleh orang yang berbeda. Demikian halnya dengan kekuasaan federatif. Ajaran John Locke sangat menarik karena membuka kemungkinan besar tentang ajaran hak dasar (hak azasi), dari ajarannya tentang hak alamiah yang tidak dapat diserahkan dalam perjanjian kemasyarakatan (kontrak sosial).
      Dasar pemikiran hume : Menurut Hume pemahaman manusia dipengaruhi sejumlah kepasatian dasar tertentu mengenai dunia eksternal, masa depan, sebab dan kepastian – kepastian ini merupakan naluri alamiah manusia, yang tidak dihasilkan ataupun bisa dicegah oleh akal budi atau proses pemikiran manusia. Dengan naluri alamiah manusia dapat mencapai kepastian-kepastian yang memungkinkan pengetahuan manusia. Teori Hume ini meruntuhkan teori rasionalisme yang mengatakan bahwa sumber pengerahuan adalah melalui rasio atau akal.
     Menurut saya penting karena beberapa dasar peham empirisme ini ada kaitannya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat ini sehingga bila kita sudah mempelajari paham empirisme ini kita akan bisa lebih menggunakannya di kehidupan sehari-hari daripada orang yang belum mempelajarinya sama sekali.

WRITTEN IN BAHASA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG