NAMA : ARINDA DWITAMI YASMINE
NIM : 19019073
SEJARAH PEMIKIRAN MODERN
PRAGMATISME
Secara etimologis, Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti fakta, benda, materi, sesuatu yang dibuat, kegiatan/tindakan, pekerjaan atau menyangkut akibat. Pragmatisme dapat diartikan sebagai aliran pemikiran yang menekankan berfungsinya gagasan dalam tindakan. Pemikiran ini menyatakan bahwa benar tidaknya suatu teori bergantung pada berfaedah tidaknya teori itu bagi manusia dalam penghidupannya.
Istilah ‘Pragmatisme’ diambil oleh Charles Sanders Peirce dari Filsafat Kant. Dalam Filsafat Kant terdapat dua kata yang mirip namun berbeda arti, yaitu praktisch (bahasa Yunani: praktikos) dan pragmatisch (dari pragmatikos). Istilah praktisch merujuk pada pengertian tindakan dengan tujuan pada dirinya sendiri sehingga pengertian tindakan ini hanya ada dalam ranah akal budi, bukan dalam pengalaman langsung. Sedangkan, pragmatisch menekankan suatu gerak dari kehendak manusia untuk melaksanakan tujuan definitif sebagai tahap penting untuk mengklarifikasi pemikiran.Pragmatisme memiliki karakteristik khas, yaitu dapat diaplikasikan dalam praktik atau bekerja paling efektif. Pragmatisme menentukan standar validitas makna, kebenaran pernyataan, dan nilai tindakan utamanya berdasar pada efek praktikal.
Sejarah Pragmatisme pada mulanya adalah akar gagasan yang ditulis oleh beberapa pemikir Amerika, yaitu Charles Sanders Peirce (1839-1914), William James (1842-1910), dan John Dewey (1859-1952). Peirce mendefinisikan pragmatisme sebagai metode dalam teori pengetahuan dan makna. Istilah pragmatisme kemudian disebarluaskan oleh James dan karena itu nama William James lah yang lebih dikenal sebagai tokoh Pragmatisme. James memperluas pembicaraan pragmatisme tidak terbatas pada epistemologi, tetapi juga meliputi tema humanitas dan agama/keyakinan. John Dewey, dengan menggunakan pendekatan pragmatisme Peirce dan James, memperkenalkan teori instrumentalisme yang menyatakan bahwa kognisi harus berfungsi untuk memecahkan persoalan sosial. pada mulanya tumbuh sebagai perwujudan dari keinginan untuk menguji filsafat secara ilmiah dan mengakhiri perdebatan metafisik. Pragmatisme juga lahir di tengah berkembangnya Teori Evolusi Darwin dalam sains, yang menandai pergeseran perhatian para pemikir dari esensi ke cara/proses berada-nya sesuatu.
TOKOH TOKOH PRAGMATISME
1. Charles Sandre Peirce (1839-1914)
Pierce mengatakan bahwa problema-problema termasuk persoalan-persoalan metafisik dapat dipecahkan jika kita memberi perhatian kepada akibat-akibat praktis dari mengikuti bermacam-macam pikiran. Pierce merupakan seorang ahli logika yang mementingkan problema teknis dari logika dan epistemologi serta metoda sains dalam laboratorium. Perhatiannya dalam logika mencakup penyelidikan sistem deduktif, metodologi dalam sains empiris dan filsafat yang ada di belakang metoda dan teknik yang bermacam-macam.
Logikanya mencakup teori alamat (signs dan symbols) dan karyanya dalam hal tersebut merupakan karya perintis. Ia memandang logika sebagai alat komunikasi atau usaha kooperatif atau umum.Salah satu sumbangan Pierce yang paling penting bagi filsafat adalah teorinya tentang arti. Pada hakekatnya ia membentuk satu dari teori-teori modern tentang arti dengan mengusulkan suatu teknik untuk menjelaskan pikiran.
Empirisme Pierce lebih bersifat intelektual daripada voluntaris (segi kemauan); ini berarti bahwa ia menekankan kepada intelek dan pemahaman lebih daripada kemauan dan aktivitas. Rasa tidak enak karena sangsi mendorong kita mencari keyakinan. Hasil dari pencarian tersebut, yang maksudnya adalah untuk menghilangkan kesangsian, adalah pengetahuan. Dengan begitu maka ia tidak menekankan kepada rasa indrawi atau kemauan seperti yang dilakukan oleh bentuk-bentuk terakhir dari pragmatisme umum. Di satu pihak, Pierce bersifat kritis terhadap intuisionisme dan prinsip-prinsip a priori.
2. William James (1842- )
Pragmatisme James merupakan faham tentang pemikiran, pendapat, dan teori, yang dapat dipraktikkan yang dianggap benar dan berguna. Dengan ini James menganggap nonsens terhadap “ide” Plato, “pengertian umum” Socrates, definisi Aristoteles, skeptisisme Descartes.
Metode yang digunakan James adalah meliorisme, dengan cara menggabungkan keberlawanan rasionalisme dan empirisisme, untuk memecahkan masalah-masalah filsafatnya.Pahamnya tentang kebenaran memunculkan karakteristik pragmatisme yang humanistis. Di sini, moral memperoleh wajah yang pluralistik.
Seperti telah diketahui, James terpengaruh oleh hal-hal yang baru, kemerdekaan, kemauan individualitas dan ketidakseragaman yang bersifat inheren dalam alam ini. Akibatnya ia menekankan pendapat bahwa Tuhan itu terbatas.Walaupun begitu Tuhan itu bermoral dan bersikap bersahabat dan manusia dapat bekerja sama dengan Tuhan dalam perjuangan menciptakan suatu dunia yang lebih baik.
Kata kunci pragmatisme James adalah: “tidak ada hukum moral umum, tidak ada kebenaran umum, semua kebenaran belum final”. Kata kunci ini berada dalam breakdown filsafat Amerika yang menekankan proses sebagai manusia (human being qua process).
3. John Dewey (1859)
John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata (sesuatu yang realitas), filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya.
Menurut Dewey, kita ini hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaannya. Sikap Dewey dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meneliti tiga aspek dari yang kita namakan instrumentalisme. Pertama, kata “temporalisme” yang berarti bahwa ada gerak dan kemajuan nyata dalam waktu. Kedua, kata futurisme, mendorong kita untuk melihat hari esok dan tidak pada hari kemarin. Ketiga, milionarisme, berarti bahwa dunia dapat diubah lebih baik dengan tenaga kita. Experience (pengalaman) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman itu secara aktif-kritis.
Dewey mengatakan bahwa manusia telah memakai dua metoda untuk menghindari bahaya dan mencapai keamanan. Metoda pertama adalah dengan melunakkan atau minta damai kepada kekuatankekuatan di sekitarnya dengan upacara-upacara keagamaan, korban, berdoa, dan lain-lain. Metoda kedua adalah dengan menciptakan alat untuk mengontrol kekuatan-kekuatan alam bagi maslahat manusia. Ini adalah jalannya sains, industri, dan seni, dan cara inilah yang disetujui Dewey. Tujuan filsafat adalah untuk mengatur kehidupan dan aktivitas manusia secara lebih baik, untuk di dunia, dan sekarang. Perhatian dialihkan dari problema metafisik tradisional kepada metoda, sikap, dan teknik untuk kemajuan ilmiah dan kema-syarakatan. Metoda yang diperlukan adalah penyelidikan eksperimental yang diarahkan oleh penyelidikan empiris dalam bidang nilai.
Paham pragmatisme ini sangat berkaitan erat dengan kehidupan abad XX karena lebih banyak membahas tentang tujuan berpikir. Tujuan kita berfikir adalah memperoleh hasil akhir yang dapat membawa hidup kita lebih maju dan lebih berguna. Sesuatu yang menghambat hidup kita adalah tidak benar. Selain itu juga lebih banyak menjabarkan bagaimana manusia harus belajar dari pengalaman agar menjadikannya lebih baik dari sebelumnya. Karena pengetahuan tidak hanya tentang ilmu,namun juga tentang pengalaman hidup.
WRITTEN IN BAHASA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar