Jumat, 09 Oktober 2020

Essay Pendek Kamis 8 Oktober 2020 (Reinassance, Rasionalisme, Empirisme)

NAMA : ARINDA DWITAMI YASMINE
NIM : 19019073
SEJARAH PEMIKIRAN MODERN

Bab 3
REINASSANCE

        Kata Renaissance berarti kelahiran kembali. Renaissance merupakan usaha menghidupkan kembali kebudayaan klasik (Yunani-Romawi) yang dipandang sebagai sesuatu yang bernilai pada dirinya.
        Kelahiran kembali budaya Romawi dan Yunani kuno telah terjadi di Italia sejak abad ke-14. Lebih jauh Burckhardt mengatakan bahwa renaissance bukan sekedar kelahiran kembali kebudayaan Romawi dan Yunani kuno tetapi merupakan kebangkitan kesadaran manusia sebagai individu yang rasional, sebagai pribadi yang otonom, yang mempunyai kehendak bebas dan tanggungjawab. Manusia bebas, rasional, mandiri dan individual itulah prototype manusia modern, manusia yang sanggup dan mempunyai keberanian untuk memandang dirinya sebagai pusat alam semesta (antroprosentris) dan bukan Tuhan sebagai pusatnya (teosentris). Maksudnya manusia harus berani bertanggungjawab atas segala perbuatannya dan mengandalkan pada kemampuan-kemampuan yang dimilikinya dalam menjalani kehidupan duniawi ini. Ini memang mengandung benih-benih sekularisme barat sehingga agama semakin tersisihkan. Bahkan gema renaissance mengumandangkan seruan bahwa “Man can do all thing if they will”. Itu berarti bahwa manusia itu dapat berbuat apa saja, sebab dirinya memang begitu otonom.
Italia memiliki tradisi klasik yang lebih kuat dibandingkan beberapa negara di Eropa barat.        Pada Abad Pertengahan, orang-orang Italia telah berusaha mengelola cara-cara melestarikan warisan kebudayaan Romawi Kuno bagi anak keturunan mereka. Mereka memeliharanya dengan penuh rasa bangga dan menganggap bahwa infiltrasi Lombard, Byzantium dan Saracenic, telah menurunkan mereka ke tingkat kebudayaan yang rendah dari masa ke masa. Dari peninggalan-peninggalan yang terdapat di beberapa kota di Italia, menunjukkan bahwa sistem pendidikan Romawi Kuno masih terdapat di sekolah-sekolah pemerintah.
      Zaman renaissance juga ditandai dengan meningkatnya semangat menghidupkan ilmu pengetahuan dari masa Yunani Romawi, sehingga banyak orang menyibukkan diri untuk menggali ilmu pengetahuan, seperti ilmu pasti, ilmu falak dan ilmu pengetahuan alam lainnya. Inilah yang mendorong munculnya ilmuwan-ilmuwan terkenal seperti Newton, Harvey, Descartes, Pascal, Leewenhook, dan lain-lain. Semangat baru ini juga mempengaruhi pemikiran politik zaman itu. Ilustrasi yang paling baik mengenai hal itu terdapat dalam karya-karya Niccolo Machiavelli yang secara kreatif memanfaatkan kajiannya tentang Livy ketika ia menerapkannya pada pembuatan pedoman-pedoman praktis untuk pelaksanaan politik dan perang modern.


Bab 4
RASIONALISME

      Rasionalisme adalah pendirian dalam cara berpikir yang menjunjung tinggi rasio atau akal dengan cara yang sedemikian rupa sehingga akal menjadi hakim yang mutlak atas segala sesuatu. Dengan demikian, menurut aliran ini, segala sesuatu mendapatkan tolak ukurnya melalui rasio. Segala sesuatu harus dimengerti dengan sejelas-jelasnya
      Kaum Rasionalisme mulai dengan sebuah pernyataan aksioma dasar yang dipakai membangun sistem pemikirannya diturunkan dari ide yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas,dan pasti dalam pikiran manusia. Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui ide tersebut, namun manusia tidak menciptakannya, tetapi mempelajari lewat pengalaman. Ide tersebut kiranya sudah ada “ di sana” sebagai bagian dari kenyataan dasar dan pikiran manusia. Kaum rasionalis berdalil bahwa karena pikiran dapat memahami prinsip, maka prinsip itu harus ada, artinya prinsip harus benar dan nyata. Jika prinsip itu tidak ada, orang tidak mungkin akan dapat menggambarkannya. Prinsip dianggap sebagai sesuatu yang a priori, dan karenanya prinsip tidak dikembangkan dari pengalaman, bahkan sebaliknya pengalaman hanya dapat dimengerti bila ditinjau dari prinsip tersebut.
Tokoh-tokohnya antara lain ; Rene Descartes (1596 – 1650),Baruch de Spinoza (1632 – 1677),Gottfried Wilhelm Von Leibniz (1646 – 1716),Nicolo Machiavelli (1469 – 1527),Christian Wolff (1679-1754)
Dasar pemikiran tokoh tersebut sebagai berikut; dasar pemikiran Descartes : Descartes pada masa hidupnya sangat dipengaruhi oleh suasana yang tidak pasti, yaitu adanya kesimpangsiuran yang tampak pada jalan pikiran manusia pada waktu itu. Bahwa manusia lahir di dunia ini sebagai orang-orang yang belum dewasa. Pendapat setiap orang ditentukan oleh pendapat atau omongan orang lain, artinya setiap orang dipengaruhi oleh orang sebelumnya atau orang sezamannya dalam memperoleh pengetahuan, sehingga pada hakekatnya pendapat kita hanya merupakan prasangka-prasangka, maka segala sesuatu yang kita hadapi harus kita ragukan, kecuali ragu-ragu itu sendiri. Apabila kita bersikap ragu-ragu berarti kita sadar, kita berpikir. Sadar bahwa kita berpikir, maka berarti pula bahwa kita ini ada.
Dasar pemikiran Spinoza: Kita harus membentuk idea-idea yang sesuai dengan realitas yang jelas, agar pandangan kita menjadi benar. Sebaliknya, ketika pengertian dangkal dan emosi-emosi pasif mencegah kita dari menjadi diri kita sendiri. Kebenaran berarti kita mempunyai idea-idea yang benar, termasuk tentang diri kita sendiri. Akhirnya, pengertian yang luhur yang dengannya akal budi kita mencapai fungsinya yang tertinggi adalah mengerti Allah karena tak ada pengertian yang lebih luas daripada pengertian akan Allah. Semakin kita mengerti Allah, semakin kita mencintaiNya.
    Dasar pemikiran Leibniz : Dari karya-karyanya itu, Leibiz dapat dikatakan sebagai orang yang teguh pada Tuhan. Buktinya adalah ia telah meminjam bukti-bukti bersifat kesarjanaan (skolastik) yang ada tentang kehadiran Tuhan dan sesungguhnya ia telah mengulang kembali falsafah Augustinus dalam istilah ilmu pasti dan fisika kaum teologi abad pertengahan yang menarik bukti-bukti berdasarkan kitab keagamaan, maka Leibniz berpaling kepada penemuan-penemuan ilmu pasti dan ilmiah yang mengesankan dari zamannya sendiri. Leibniz menggambarkan bahwa manusia adalah wujud dari pengaturan atau pemograman. Tuhanlah yang membuat program dan setelah program itu dibuat, dunia akan berjalan terus dengan sendirinya. Leibniz adalah pemikir yang optimis, namun pemikir lain tetap menilainya belum berhasil menemukan sintesa dari dua fakta yaitu harmonia di satu pihak dan kejahatan di lain pihak.
    Dasar pemikiran Machiavelli : nasehat bagi kaum penguasa yang ingin sukses dalam memerintah. Prinsip pokok yang harus dipegang adalah seorang penguasa harus membuang jauh-jauh segala macam pertimbangan moral dan hanya mengandalkan pada kekuatan, kebohongan, kelicikan, dan kebencian. Jika keamanan negara memang mengharuskan, maka segala cara halal untuk mencapai tujuan dan menegakkan kekuasaan. Seorang penguasa tidak boleh mengikuti hati nurani yang melemahkan kemauan untuk tetap berkuasa. Orang lain dapat saja mengemukakan kebenaran dan bersedia menderita untuk itu, tetapi penguasa kebenaran sejati terletak pada bagaimana mempertahankan dan memperkuat kekuasaan dengan segala cara.
     Dasar pemikiran wollf : pengembangan dari filsafat Leibniz dengan menerapkannya terhadap segala bidang ilmu pengetahuan. Ia mengupayakan supaya filsafat menjadi ilmu pengetahuan yang pasti. Untuk itu, filsafat harus disertai dengan pengertian-pengertian yang jelas dan bukti-bukti yang kuat. Suatu sistem filsafat haruslah berisi gagasan-gagasan yang jelas dan penguraian yang baik. Wolff berjasa dalam membuat filsafat menarik perhatian masyarakat umum.
     Mengapa mempelajari paham rasionalisme sangat penting bagi kehidupan?seberapa pentingnya? Tentu ini sangat penting karena semakin kita paham akan pemikiran dasar dari paham rasionalisme ini maka akan semakin besar peluang bagi pribadi individu untuk mengaplikasikannya kedalam kehidupan sehari-hari.


Bab 5 
EMPIRISME
     Empirisme adalah suatu aliran yang berpendapat bahwa empiris atau pengalaman merupakan sumber pengetahuan. Pengalaman disini meliputi pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia.           
      Konsekuensi dari anggapan ini adalah munculnya keyakinan bahwa akal atau rasio bukan menjadi sumber pengetahuan, tetapi akal mendapat tugas untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman.
Pemicu erkembangan empirisisme yang meluas itu adalah karena ada kekecewaan, khususnya di kalangan pemikir, terhadap aliran rasionalisme yang memang telah berkembang terlebih dahulu.
     Tokoh-tokohnya antara lain; Francis Bacon (1561-1627),Thomas Hobbes (1588-1679),John Locke (1632-1704),David Hume (1711-1776)
     Dan dasar pemikiran tokoh tersebut sebagai berikut; dasar pemikiran Bacon : Pemikiran-pemikiran Francis Bacon dapat dilihat dari karya-karyanya. Ia berusaha menjawab mengapa ilmu pengetahuan lambat berkembang, sehingga ia ingin menunjukkan bagaimana sebaiknya jalan yang harus ditempuh demi tercapainya perkembangan ilmu pengetahuan itu. Usahanya untuk mengembangkan pengetahuan yang baru ia lakukan dengan melancarkan kritik-kritik terhadap semua kekuatan yang menentang ide-idenya yang baru.
     Dasar pemikiran Hobbes : Hobbes menganggap pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengetahuan. Pengenalan intelektual tidak lain daripada semacam kalkulus atau perhitungan, yaitu penggabungan data-data inderawi yang sama dengan cara yang berlain-lainan. Tentang dunia dan manusia ia menganut suatu pendapat materialistis. Karena itu ajaran Hobbes merupakan sistem materialistis yang pertama dalam sejarah filsafat modern
     Dasar pemikiran Locke : Menurut Locke antara kekuasaan perundang-undangan dan kekuasaan melaksanakan undangundang sebaiknya dipegang oleh orang yang berbeda. Demikian halnya dengan kekuasaan federatif. Ajaran John Locke sangat menarik karena membuka kemungkinan besar tentang ajaran hak dasar (hak azasi), dari ajarannya tentang hak alamiah yang tidak dapat diserahkan dalam perjanjian kemasyarakatan (kontrak sosial).
      Dasar pemikiran hume : Menurut Hume pemahaman manusia dipengaruhi sejumlah kepasatian dasar tertentu mengenai dunia eksternal, masa depan, sebab dan kepastian – kepastian ini merupakan naluri alamiah manusia, yang tidak dihasilkan ataupun bisa dicegah oleh akal budi atau proses pemikiran manusia. Dengan naluri alamiah manusia dapat mencapai kepastian-kepastian yang memungkinkan pengetahuan manusia. Teori Hume ini meruntuhkan teori rasionalisme yang mengatakan bahwa sumber pengerahuan adalah melalui rasio atau akal.
     Menurut saya penting karena beberapa dasar peham empirisme ini ada kaitannya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat ini sehingga bila kita sudah mempelajari paham empirisme ini kita akan bisa lebih menggunakannya di kehidupan sehari-hari daripada orang yang belum mempelajarinya sama sekali.

WRITTEN IN BAHASA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar