NAMA : ARINDA DWITAMI YASMINE
NIM : 19019073
SEJARAH PEMIKIRAN MODERN
PEMIKIRAN ABAD KE XX
Pemikiran abad ke-20 meliputi perkembangan sejumlah aliran filsafat baru yaitu positivisme, marxisme, eksistensialisme, fenomenologi, pragmantisme, dan neo kantinisme dan kemudian bergerak menuju poststukturalisme. Dalam hal era filsafat, filsafat tersebut biasanya dilabeli sebagai filsafat kontemporer menggantikan filsafat modern, yang berjalan dari zaman Descartes sampai abad kedua puluh.
Filsafat abad ke-20 membawa kita pada corak filsafat yang lebih berwarna dibandingkan era sebelumnya. Secara periodis, filsafat abad ke-20 dimulai pasca filsafat modern. Pada masa inilah, pergeseran gaya filsafat dapat ditangkap secara jelas. Salah satu faktor utama adalah gejolak realitas di kala itu yang terekspos besar-besaran dalam Perang Dunia. Industrialisasi manusia di Barat terjadi secara revolusioner dan turut memegang andil dalam filsafat abad ke-20.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kebangkitan filsafat abad ke-20 menjadi ironi bagi filsafat itu sendiri. Kontradiksi sederhana dapat dipahami, di satu sisi bahwa era abad ke-20 membuka garis batas filsafat menjadi bebas dan menarik. Filsafat menjadi topik yang membumi, tidak mengawang di menara gading. Filsafat terkemas sedemikian rupa, sesuai konteks kekinian dan terasa nikmat untuk dikaji.
Perkembangan filsafat pada zaman kontemporer ( abad ke-XX dan seterusnya) ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan penemuan berbagai teknologi canggih. Dalam pemikiran abad ke-20, heterogenitas dan kuantitas aliran-aliran lebih menonjol daripada kualitas mereka. Salah satu sebab heterogenitas filsafat abad kedua puluh adalah “profesionalisme” yang semakin besar. Kebanyakan filsuf abad kedua puluh merupakan spesialis-spesialis dalam matematika, fisika, psikologi, sosiologi dan ekonomi.
Beberapa aliran yang menonjol, yang muncul pada abad kedua puluh, diantaranya adalah :
1. Positivisme (Auguste Comte)
Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturanaturan, demikian juga alam. Postivisme pada hakikatnya juga adalah ajaran sosial atau pandangan dunia, yang menganggap mungkin bahwa masyarakat yang lebih baik itu dapat dibentuk. Ilmu pengetahuan, dalam pandangan Comte, patut menjadi pemimpin dalam usaha ini. para pengikut positivisme logis menganut kayakinan ini. hal ini tercermin dalam pemakaian kata 'positivisme' dalam nama aliran filsafat ilmu pengetahuan.
2. Marxisme (Karl Marx)
Marxisme merupakan dasar teori komunisme modern. Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum, sementara hasil pekerjaan mereka hanya dinikmati oleh kaum kapitalis. Salah satu alasan mengapa Marxisme merupakan sistem pemikiran yang amat kaya adalah bahwa Marxisme memadukan tiga tradisi intelektual yang masi telah sangat berkembang saat itu, yaitu filsafat Jerman, teori politik Perancis, dan ilmu ekonomi Inggris.
3.Eksistensialisme
Eksistensi diartikan manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya dan sibuk dengan dunia di luarnya.Tokoh eksistensialisme adalah
A. Martin Heidegger
Menurutnya, persoalan berada hanya dapat dijawab melalui ontologi, artinya jika persoalan ini dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungan itu. Metode untuk ini adalah metode fenomenologis. Jadi yang penting adalah menemukan arti berada itu,satu-satunya yang berada dalam arti yang sesungguhnya adalah beradanya manusia. Menurut Heidegger, manusia tidak menciptakan dirinya sendiri, ia dilemparkan ke dalam keberadaan. Tetapi, walau manusia keberadaannya tidak mengadakan sendiri, bahkan merupakan keberadaan yang terlempar, manusia tetap harus bertanggungjawab atas keberadaannya itu.
B. Jean Paul Sartre
Pandangan tentang pentingnya arti manusia sebagai pribadi inilah yang menjadi intisari filsafat yang dikembangkan oleh Sartre dalam nama eksistensinya. Bagi Sartre, segala berada secara ini, “segala berada” dalam diri (I’efre en soi) adalah memuakkan (nauseant).Manusia mempunyai hubungan dengan keberadaannya, ia bertanggungjawab atas fakta bahwa ia ada. Eksistensi walaupun kebebasan, namun tergantung juga kepada hal yang lain. Sebab sekali kita bebas di dalam pemilihan, kita terikat pada pemilihan itu, serta harus berbuat serta memikul akibat perbuatan itu. Maka tidak ada kebebasan yang mutlak. Kita bebas, tetapi justru itulah kecemasan kita.
C. Gabriel Marcel (1889-1973)
Dalam filsafatnya ia menyatakan, bahwa manusia tidak hidup sendirian, tetapi bersama-sama dengan orang lain. Tetapi manusia memiliki kebebasan yang bersifat otonom. Ia selalu dalam situasi yang ditentukan oleh kejasmaniannya. Dari luar ia dapat menguasai jasmaninya, tetapi dari dalam ia dikuasai oleh jasmaninya. Manusia bukanlah makhluk yang statis, sebab ia senantiasa menjadi (berproses).
4. Fenomenologi
Edmund Husserl (1859-1938) adalah pelopor filsafat fenomenologi yang sangat berpengaruh. Husserl mengemukakan tiga macam reduksi atau penyaringan, yaitu :
Reduksi Fenomenologis. Di dalam reduksi fenomenologis, kita harus melakukan penyaringan terhadap semua pengalaman-pengalaman kita, dengan maksud agar mendapatkan fenomena yang semurni-murninya.
Reduksi Eidetis. Yaitu penyaringan atau penempatan dalam tanda kurung segala hal yang bukan eidos (intisari/hakekat gejala/fenomena). Kita melihat hakekat sesuatu. Inilah pengertian yang sejati. c) Reduksi Transendental Dalam reduksi transendental yang harus ditempatkan di antara tanda kurung ialah eksistensi dan segala sesuatu yang tidak ada hubungan timbal balik dengan kesadaran murni, agar dari obyek itu akhirnya orang sampai kepada apa yang ada pada subyek sendiri, dengan kata lain, metode fenomenologi itu diterapkan pada subyeknya sendiri dan kepada perbuatannya, kepada kesadaran yang murni.
5. Pragmatisme
Pragmatisme diambil dari kata pragma (bahasa Yunani), yang berarti tindakan, perbuatan. Kata pragmatisme sering diucapkan orang-orang yang menyebutkan kata itu dalam pengertian praktis.
Aliran pragmatisme timbul di Amerika dengan tokohnya yang terutama yaitu : William James dan John Dewey
A. William James
Nilai konsep atau pertimbangan kita, tergantung pada akibatnya, kepada kerjanya. Artinya tergantung pada keberhasilan perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar bila bermanfaat bagi pelakunya, memperkaya hidup dan kemungkinankemungkinannya. Menurut James, dunia tidak dapat diterangkan dengan berpangkal pada satu asas saja. Dunia adalah dunia yang terdiri dari banyak hal yang saling bertentangan.
B. John Dewey
Menurutnya, tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan dalam kenyataan hidup. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran Metafisis yang tidak ada faedahnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara kritis. Menurut John Deawey tidak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, segera berpikir untuk mengatasi kesulitan itu.
Menurut saya pentingnya mempelajari pemikiran abad XX adalah karena kita hidup dengan menggunakan pikiran dan akal yang secara keseluruhan telah tertuang dalam sejarah pemikiran abad XX,dan kita dapat mampu berpikir mendalam,rasional,serta komunikatif. Juga jika kita mengaplikasikannya kedalam kehidupan kita sehari-hari kita dapat menjadi manusia yang bertanggung jawab dan berpikir sebelum melakukan suatu hal,memikirkan baik dan buruknya terlebih dahulu.
WRITTEN IN BAHASA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar