Rabu, 11 November 2020

EKSISTENSIALISME




 EKSISTENSIALISME

 

 

     Eksistensialisme berasal dari kata “eks” yang berarti keluar dan “sistensi” dari kata “eksistere” yang berarti tampil, menempatkan diri, berdiri, yaitu cara manusia berada di dunia ini. Semua ini mempunyai inti yang sama, yaitu keyakinan bahwa filsafat harus berpangkal pada adanya (eksistensi) manusia yang konkret, dan tidak pada hakikat (esensi) manusia pada umumnya.Eksistensialisme berasal dari kata “eks” yang berarti keluar dan “sistensi” dari kata “eksistere” yang berarti tampil, menempatkan diri, berdiri, yaitu cara manusia berada di dunia ini. Semua ini mempunyai inti yang sama, yaitu keyakinan bahwa filsafat harus berpangkal pada adanya (eksistensi) manusia yang konkret, dan tidak pada hakikat (esensi) manusia pada umumnya. Secara harfiah, kata eksistensi berarti muncul, timbul, memiliki wujud eksternal, sister (existere, latin) menyebabkan berdiri.

      Eksistensialisme yang berkembang pada abad ke 20 di Perancis dan Jerman, bukan sebagai akibat langsung dari suatu keadaan tertentu, tetapi lebih disebabkan oleh respon yang dialami secara mendalam atas runtuhnya berbagai tatanan di dunia Barat yang sebelumnya dianggap stabil. Meletusnya perang dunia pertama telah menghancurkan keyakinan atas keberlanjutan kemajuan peradaban menuju kebenaran dan kebebasan. Kemudian dengan melemahnya banyak struktur eksternal kekuasaan, seperti struktur ekonomi, politik serta kekuasaan pada saat itu yang sudah kehilangan legetimasinya, dan kuasa atas individu jadi terasa sudah tidak lagi ditolerir karena ditentang dan dianggap tidak memiliki peran yang berarti, dan pada saat itu manusia perorangan hanya bisa tunduk pada kekuasaan internal atas dirinya sendiri. Kondisi seperti itu telah mengantarkan para eksistensialis kembali pada diri manusia sebagai pusat filsafat yang sejati dan sebagai satu-satunya kekuasaan yang berlegitimasi. Eksistensialisme merupakan suatu aliran filsafat yang lahir untuk menentang zamannya. Ia lahir sebagai reaksi terhadap cara berfikir yang telah ada seperti materialisme dan idealisme, dan barangkali juga kekecewaan terhadap agama (Kristen).

 

TOKOH TOKOH EKSISTENSIALISME 

1. Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855)

      Sören Kierkegaard sangat menekankan masalah Ilahiah/ Ketuhanan pada puncak pemikirannya. Berbicara mengenai filsafat eksistensialisme tentu mempunyai akar genealoginya. Apabila ditinjau dari alam pikiran Barat dewasa ini maka dapat dikatakan bahwa filsafat eksistensialisme pada dasarnya merupakan tanggapan terhadap aliran-aliran filsafat sebelumnya

     Menurut Kierkegaard, yang sangat penting bagi manusia adalah keadaan dirinya sendiri atau eksistensi sendiri. Dalam keberadaannya tersebut eksistensi manusia bukan statis, melainkan menjadi, yang secara implisit di dalamnya terjadi perubahan dan perpindahan dari kemungkinan pada tingkat kenyataan. Dalam perkembangannya, dinamika eksistensi manusia sendiri terjadi dalam kebebasan dan keluar dari kebebasan. Dengan demikian, eksistensi manusia berada dalam kebebasan karena manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam kehidupannya.Eksistensi adalah titik Archimedes yang baru di mana tempat manusia melekatkan dunia dan dirinya sendiri. Untuk menentukan hidupnya manusia harus berani mengambil keputusan. Dengan keberaniannya untuk mengambil keputusan ini maka keputusan- keputusan akan menjadi bermakna.

      Lebih lanjut, Sören Kierkegaard mengatakan bahwa manusia yang dapat mengambil keputusan merupakan suatu bentuk eksistensi manusia yang sebenarnya. Sebaliknya, apabila manusia tidak dapat memberikan putusan yang tegas maka hal tersebut merupakan bentuk suatu eksistensi yang tidak sebenarnya atau dapat dikatakan sebagai suatu eksistensi yang semu.

 

2. Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1889)

     Secara umum kita dapat melihat 3 bagian penting dalam pandangan filsafatnya yang saling berkaitan satu dengan yang lain: nihilisme, kehendak untuk berkuasa (the will to power), dan ubermensch.

     Nihilisme berangkat dari sebuah renungan tentang krisis kebudayaan khususnya kebudayaan Eropa pada zamannya. Bagi Nietzsche, orang Eropa pada zamannya tidak sanggup lagi merenungkan dirinya sendiri, yang takut merenung. Bagaikan sebuah insight tentang apa yang hendak terjadi pada zaman sesudahnya, demikianlah teorinya. Nihilisme semacam keruntuhan nilai dan makna yang meliputi seluruh bidang kehidupan mansia yang dapat dibagi menjadi dua, yaitu bidang keagamaan dan bidang ilmu pengetahuan.

     Sebagai lanjutan atau konsekuensi dari nihilisme yakni, the will to power atau kehendak untuk berkuasa. Bagi Nietzsche kemanusiaan didorong oleh suatu kehendak untuk berkuasa. Semua impuls tindakan kita berasal dari kehendak ini. Seringkali kehendak untuk berkuasa ini diubah dari ekspresinya yang semula, atau bahkan diaihkan ke bentuk lain, tapi tidak dapat dihindari semua itu selalu bermata air di tempat yang sama. Bagi Nietzsche, ajaran kristen seperti cinta kasih, kerendahan hati, keibahan adalah lawan dari the will to power.

     Ubermensch di sini tidak dimaksudkan sama dengan superman yang berkonotasi stagnan melainkan memakai istilah overman, yang berkelanjutan dan di dalam proses menjadi. Di dalam Bahasa Indonesia, Ubermensch diartikan dengan kata “manusia atas”. Manusia atas adalah manusia yang unggul yang lebih dari manusia lainnnya. Bagi Nietzsche, kebudayaan yang baik adalah kebudayaan yang membuat manusia-manusianya maju dan menjadi unggul.

3. Jean-Paul Sartre (1905-1980)

     Premis filsafat Sartre banyak diuraikan dengan pelbagai istilah „revolusioner‟ di pertengahan abad 20. Misalnya pernyataan yang mengatakan bahwa eksistensi itu mendahului esensi (hal ini dikenal dalam eksistensialisme dengan semboyan existence precedes essense), tidak ada hakikat manusia, karena tidak ada Tuhan yang memiliki konsepsi tentang hal itu. Esensi sebagai bangunan intelektual akan hilang bersama dengan akal yang memahaminya.

     Titik tolak filsafat menurut Sartre tidak bisa lain dari pada cogito ; kesadaran yang saya miliki tentang diri saya sendiri. Dalam hal ini, Sartre mengakui kebenaran Descartes. Tetapi filsuf abad 17 ini menurut Sartre langsung menafsirkan cogito sebagai suatu cogito yang tertutup, sehingga cogito yang terpisah dari dunia dan terkurung dalam dirinya. Untuk itu kemudian Sartre memasukkan pandangan Husserl yang menyatakan bahwa intensionalisme merupakan ciri khas kesadaran. Menurut kodratnya kesadaran terarah kepada yang lain dari dirinya. Menurut kodratnya kesadaran adalah transendensi (bertentangan dengan imanensi yang menandai cogito Descartes).

     Tema sentral yang terdapat dalam seluruh karya filsafat Sartre adalah manusia atau lebih spesifik menekankan human existence. Salah satu ungkapan Sartre yang menunjukkan hal ini adalah “hanya manusia yang sungguh-sungguh bereksistensi”.Sartre memandang manusia sebagai subjek, manusia adalah pencipta dirinya sendiri yang terus menerus. Manusia terus menerus mencipta dirinya sendiri dengan kemauan, kemerdekaan dan perbuatannya. Dengan kebebasannya manusia dapat mencipta, ia ditandai oleh keterbukaan pada masa depan dan merencanakan segala sesuatu bagi dirinya. Ia tidak dapat menyalahkan orang lain atau menggantungkan diri kepada realitas yang tidak ada (Tuhan), tetapi manusialah yang senantiasa menciptakan dirinya sendiri.

 

     Menurut saya hubungan eksistensialisme dengan abad XX adalah manusia sebagai makhluk yang lebih berpikir dan dan ada didunia ini untuk menciptakan suatu kedamaian dan pemikiran-pemikiran baru yang berkembang dan akan menata dunia untuk kehidupan selanjutnya.


WRITTEN IN BAHASA

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar