PAHAM MARXISME
Secara historis,filsafat Marxisme adalah filsafat perjuangan kelas buruh untuk menumbangkan kapitalisme dan membawa sosialisme ke bumi manusia.Marxisme adalah kata lain untuk sebuah filsafat dialektika materialisme. Dialektika dan materialisme adalah dua filsafat yang dikembangkan oleh filsuf-filsuf Barat dan juga Timur, yang kemudian disatukan,disintesakan,oleh Marx menjadi dialektika materialisme. Untuk memahami pokok-pokok Marxisme, kita bisa memecahnya menjadi tiga bagian, seperti yang dipaparkan oleh Lenin, yakni: Materialisme Dialektis, Materialisme Historis, dan Ekonomi Marxis, Tiga bagian ini yang biasanya menjadi bagian utama dari Marxisme.Jadi, pada dasarnya, pokok dari Marxisme adalah materialisme dialektis.
Sejak filsafat ini dirumuskan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels 150 tahun yang lalu dan terus berkembang, filsafat ini telah mendominasi perjuangan buruh secara langsung maupun tidak langsung. Kendati usaha-usaha para akademisi borjuis untuk menghapus ataupun menelikung Marxisme selalu ada, tetapi filsafat ini terus hadir di dalam sendi-sendi perjuangan kelas buruh.Dalih bahwa buruh terlalu bodoh untuk bisa memahami dasar-dasar filsafat Marxisme adalah tidak lain usaha kaum borjuasi untuk memisahkan buruh dari filsafat perjuangannya. Tidak ada yang bisa memisahkan buruh dari filsafatnya karena dalam kesehari-hariannya buruh menghidupkan filsafat ini di dalam aktivitasnya di pabrik. Alhasil, buruhlah yang pada akhirnya mampu merenggut filsafat ini untuk digunakan dalam perjuangan melawan kapitalisme. Sejarah telah menunjukkan bahwa kaum intelektual yang bersenjatakan Marxisme tidak pernah mencapai hasil sejauh kaum buruh. Marxisme adalah kata lain untuk sebuah filsafat dialek.
Pandangan Marxisme tentang negara merupakan antitesa dari pandangan liberalisme tentang negara yang menganggap bahwa negara adalah kontrak sosial untuk perdamaian.Berbeda dengan filsafat Idealisme Hegel yang menganggap bahwa kekuatan yang menggerakkan sejarah adalah roh dunia atau akal dunia, Marx melihat bahwa perubahan material itulah yang mengubah sejarah. Perubahan material menciptakan hubungan-hubungan rohaniah yang baru. Marx secara khusus menekankan bahwa kekuatan ekonomi dalam masyarakatlah yang menciptakan perubahan dan menggerakkan sejarah yang bergerak maju. Konsep sejarah Marx (Materialisme Dialektika Historis), sebenarnya berasal dari kritikannya terhadap dialektika Hegel yang bersifat idealis. Hegel memahami sejarah sebagai gerak ke arah rasionalitas dan kebebasan. Puncak dialektika roh dalam filsafat Hegel adalah roh absolut. “Yang Absolut adalah Yang Ada”, sementara “Yang Ada” adalah roh. Roh absolut (ide absolut) merupakan sintesis dari roh subyektif (ide subyektif) dan roh obyektif (ide obyektif). Roh absolut menurut Hegel adalah pure thought(pikiran murni) yang berpikir tentang dirinya sendiri. Sementara materialisme Marx berasal dari kritikannya terhadap materialisme Feuerbach, inti materialisme Feuerbach adalah kritikannya terhadap agama. Dasar kritik agama Feuerbach adalah bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi sebaliknya Tuhan merupakan produk dari imajinasi manusia. Menurut Feuerbach, agama hanyalah sebuah proyeksi manusia. Menurut pandangan dialektika materialis, perubahan-perubahan alam terutama disebabkan oleh perkembangan berbagai kontradiksi internal dalam alam itu sendiri.
Filsafat Marxisme mendasarkan diri pada materi, yang dalam hal ini adalah kondisi sosial dan ekonomi atau untuk lebih spesifiknya disebut corak produksi yang terdiri dari hubungan produktif dan kekuatan produktif. Setiap proses perkembangan sejarah selalu tidak bisa lepas dari “kontradiksi” antara kedua komponen corak produksi ini. Inilah yang membedakan antara konsep materialisme dialektika historis Marxisme dengan dialektika Hegel atau Materialisme Feuerbach.“Semua yang muncul patut dihancurkan”. Tetapi tak ada kelas penguasa yang secara sukarela dan damai mau begitu saja turun dari kekuasaannya, untuk itulah perjuangan kelas tertindas yang terorganisasi adalah jawabannya. Inilah inti dari teori Materialisme Dialektika Historis.
Tokoh marxisme adalah Karl Marx. Karl Heinrich Marx nama asli dari Karl Marx lahir di Trier, Prussia (sekarang Jerman), pada tanggal 5 Mei 1818. Ibunya berasal dari keluarga Rabbi Yahudi, sedangkan ayahnya berpendidikan sekuler dan pengacara yang sukses. Pemikiran Marx menjadi rujukan banyak ilmuan dan sangat relevan sebagai pisau analisis.Das Kapital menjelaskan tentang pemahaman filosofi keadilan sosial dengan mengambil kasus ketidakadilan dalam ekonomi. Pemikiran Marx dan analisis ekonomi tersebut didasarkan pada pemikiran epistimologi yang sangat terkenal yaitu dialectical and historical materialism. Pemikiran filosofi epistimologi itulah yang menjadikan Marx lebih dikenal sebagai anti Tuhan. Imajinasi sosialisme Marx untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas, tanpa penindasan, dan tanpa alienasi masih selalu diperdebatkan. Menurut Marx, sosialisme adalah produk materialisme dialektis dan materialisme historis.
Marx juga diilhami filsafat Jerman (Dialektika Hegel dan Materialisme Feurbach). Seperti Feurbach, Marx tidak puas dengan pemikiran abstrak (abstract thought). Mereka menginginkan yang lebih empiris. Jika Feurbach hanya mengganti esensi agama dan esensi manusia, Marx menambahkan bahwa esensi manusia adalah totalitas hubungan sosial. Seperti Hegel, Marx berpandangan bahwa sejarah berjalan sesuai dengan prinsip dialektika: tesis-antitesis-sintetis. Akan tetapi, jika Hegel berpendapat bahwa semua tesis itu bersifat ide, Marx menggantinya dengan yang bersifat materi karena, ide terlahir akibat kondisi sosial.
Marx dengan kemampuan ilmu ekonominya menilai bahwa konsep kapitalisme adalah sistem sosio ekonomi yang dibangun untuk mencari keuntungan yang didapat dari proses produksi, bukan dagang, riba, memeras ataupun mencuri secara langsung. Tetapi dengan cara mengorganisir mekanisme produksi secara terukur sehingga mengurangi biaya produksi seminim mungkin atau melalui mode of production. Tema besar dalam pemikiran Marx sebenarnya berkisar pada konsep kritik atas ekonomi politik. Kritik terhadap ekonomi politik ini membawa Marx pada kritik filsafat mengenai pembagian kerja.
Karl Marx ketika membicarakan masalah agama terkadang dalam ungkapan yang sangat baik, namun sebaliknya terkadang sangat kasar dan kejam. Menurut Marx, agama adalah sebuah ilusi. Rasa takut adalah sebuah ilusi dengan konsekuensi yang sangat menyakitkan.
WRITTEN IN BAHASA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar